Monthly Archives: Juli 2011

UMMU AIMAN RA (Ibu Asuh Rasulullah Saw) bagian 3/habis

Rasulullah senang dengan sesuatu yang membuat Ummu Aiman senang. Aisyah ra pernah bercerita “seorang ahli silsilah keturunan datang ke rumah kami. Saat itu Rasul ada di rumah, sedangkan Usamah bin Zaid dan Zaid bin Haritsah tidur-tiduran. Lalu orang itu berkata ‘kaki-kaki ini sama dan ada keterikatan’. Mendengar hal itu Nabi sangat senang dan mengungkapkan kekagumannya kepada orang tersebut. Lalu beliau memberitahukan hal itu kepada Aisyah ra”. (h.r. bukhari)
Imam Nawawi berkata “Imam Qadhi menyebutkan bahwa Al Mazi berkata ‘Sebelum itu orang-orang mencela nasab Usamah karena kulitnya sangat hitam, sedangkan Zaid (ayahnya) berkulit putih. Tapi setelah ahli silsilah keturunan itu menyebutkan bahwa Usamah adalah anak Zaid meskipun warna kulit mereka berbeda, Nabi sangat senang karena tidak ada peluang lagi bagi orang-orang untuk meragukan Usamah. Orang-orang Arab saat itu sangat percaya kepada ahli silsilah keturunan.” (Syarhin Nawawi dlm 35 Shiroh Shahabiyah, Mahmud Al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Ummu Aiman senang dengan semua yang menyenangkan hati Rasulullah. Dia juga sedih ketika melihat beliau sedih. Melihat Rasul sangat bahagia atas pernikahan Ali dengan Fathimah, Ummu Aiman juga turut bahagia. Ia bersama Asma binti Umais mempersiapkan semua yang dibutuhkan Fathimah untuk pernikahan.
Saat meninggalnya Zainab putri Rasulullah, Ummu Aiman turut memandikan jenazahnya dengan hati penuh kesedihan. Pada kesempatan lain, Ummu Aiman berdiri membela Aisyah ra ketika beliau diterpa fitnah dalam peristiwa “haditsul ifki”. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan Ummu Aiman punya posisi tersendiri di hati Rasulullah, para Ummul mukminin dan para sahabat nabi.
Ummu Aiman tetap dihormati oleh para sahabat. Setelah Rasulullah wafat, para sahabat sering mengunjunginya.Anas menceritakan bahwa selang beberapa waktu setelah wafatnya Rasulullah, Abu Bakar ra berkata kepada Umar “Mari kita mengunjungi Ummu Aiman, sebagaimana dulu Rasulullah mengunjunginya”. Ketika sampai di rumah Ummu Aiman mereka melihat Ummu Aiman menangis. Mereka bertanya “Apa yang membuat bunda menangis? Apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah” Ummu Aiman menjawab “Aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah, akan tetapi aku menangis karena sekarang tidak ada wahyu lagi.” Jawaban itu membuat keduanya turut menangis. Mereka pun larut dalam tangis.” (h.r. Muslim)
Riwayat Ibnu Sa’d (sanadnya shahih) menyebutkan bahwa Anas berkata “Ummu Aiman menangis saat wafatnya Rasulullah. Ketika ada yang bertanya padanya ‘Bunda menangis?’ ia menjawab ‘Demi Allah, aku sudah tahu kalau dia akan wafat. Tapi aku menangis karena dengan wafatnya Rasulullah berarti wahyu sudah tidak ada lagi’”
Ummu Aiman diberi umur panjang. Ia mengikuti masa pemerintahan Abu Bakar ra, Umar ra, hingga Utsman ra. Ketika Umar terbunuh, Ummu Aiman menangis dan berkata “Hari ini islam mulai lemah” (h.r. Ibnu Sa’d). Pada masa pemerintahan Utsman, Allah memanggil Ummu Aiman untuk berkumpul dengan orang yang sangat dicintainya (Rasulullah SAW) di syurga, yang nikmatnya tiada terkira.
Ummu Aiman, wanita luar biasa yang telah mengambil posisi dalam memperkuat pondasi Islam di zaman Rasulullah, telah membuktikan bahwa kemuliaan seseorang hanya terletak pada takwanya, bukan pada status sosial atau hal-hal duniawi lainnya. Kualitas dirinya sebagai muslimah terpancar dari kemampuannya mengasuh Rasulullah sejak kecil dan mendidik kedua anaknya (Aiman dan Usamah bin Zaid) menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa. Keberanian, keteguhan, ketangguhan dan kasih sayang yang terangkum dalam pribadinya menorehkan tinta emas dalam sejarah perjalanan Islam hingga meraih kejayaan.
Ummu Aiman, adalah potret indah seorang muslimah sejati yang bisa menjadi mercusuar di zaman ini, dimana nilai eksistensi wanita sesungguhnya seringkali bias oleh issue emansipasi, kecantikan dan kemolekan tubuh serta budaya hidup glamour dan konsumtif yang seolah telah menjadi tujuan hidup bagi sebagian besar wanita saat ini, sehingga seringkali para wanita lupa, bahwa kekuatan sesungguhnya yang Allah sisipkan dalam penciptaan dirinya adalah kemampuannya untuk menjadi madrasatul ula bagi anak2nya, dan menjadi sebaik-baik perhiasan di dunia ini.
Tapi insya Allah, penulis yakin, saat ini, diantara sekian banyak wanita yang terhipnotis oleh fitnah duniawi, masih ada pribadi-pribadi seperti Ummu Aiman yang istiqomah dengan fitrah sucinya, cerdas dengan dedikasinya, dan teguh dengan keyakinannya kepada Allah swt. Pribadi-pribadi seperti inilah yang akan melahirkan generasi Rabbani yang siap memikul amanah sebagai Khalifah di muka bumi…dan semoga, Allah swt menganugerahkan pribadi seperti itu kepada kita…amiin allahumma amiin…

By : Fathimah Zuhara

Iklan

UMMU AIMAN RA (Ibu Asuh Rasulullah Saw) bagian 2

………Ibnu umar ra pernah bercerita “Umar memberikan bagian kepada Usamah bin Zaid lebih besar dari bagianku. Maka aku menanyakannya. Umar menjawab ‘dia lebih disayangi Rasulullah daripada kamu. Ayahnya lebih disayangi Rasulullah dari pada ayahmu.” (Ibnu Hajar berkata, shahih (Al Ishabah 4/50).
Bahkan Rasulullah saw pernah berkata “Aku masuk syurga dan disambut oleh seorang remaja putri. Aku bertanya ‘kamu milik siapa?’ dia menjawab ‘milik Zaid bin Haritsah”(h.r Ruyani dan Dhiya dari Buraidhah).
Ketika penderitaan dan siksaan yang dialami kaum muslimin semakin berat, Rasulullah mengizinkan mereka untuk berhijrah ke Madinah. Maka kaum muslimin berhijrah ke Madinah untuk menyelamatkan aqidah mereka dari kekejaman kaum kafir Quraisy. Ummu Aiman termasuk dalam rombongan hijrah itu. Di perjalanan ada kejadian luar biasa yang dialami Ummu Aiman. Ustman bin Qasim menceritakan “Ummu Aiman ikut dalam rombongan kaum muslimin yang hijrah ke Madinah. Sore hari, ketika kami sampai di daerah Mansharif (sebelum Rauha), Ummu Aiman yang saat itu sedang puasa merasa sangat lelah dan haus. Tiba-tiba ada ember berisi air terikat tali putih menjulur dari langit. Lalu Ummu Aiman meminumnya. Setelah kejadian itu ia berkata “Setelah kejadian itu aku tidak pernah merasakan haus meskipun ketika berpuasa”. (h.r Ibnu Sa’d dalam 35 Shiroh Shahabiyah, Mahmud Al Mishry, Al I’tishom, 2009)
Ummu Aiman di perang Uhud
Ummu Aiman bersama beberapa kaum wanita bertugas sebagai tim kesehatan dan penyiapan makanan dalam perang Uhud. Di perang Uhud inilah dia menorehkan tinta emas dalam sejarah.
Ketika pasukan panah tidak mengindahkan intruksi Rasulullah, sehingga pasukan musuh berhasil membunuh sejumlah pasukan muslim, dan sebagian pasukan muslim lainnya mundur lari ketakutan, Ummu Aiman menghadang mereka dan melemparkan pasir ke muka mereka seraya berkata “ini bedak yang pantas kalian terima. Ambil pedang kalian” (Dalailun Nubuwwah, Baihaqi). Lalu bersama rekan-rekan wanitanya Ummu Aiman mencari berita tentang Rasulullah, mengetahui beliau selamat, ia merasa tenang.
Ummu Aiman di perang Khaibar
Ummu Aiman ikut dalam perang Khaibar. Ia tidak mau ketinggalan dalam peristiwa ini sebagai tahapan penting dalam penegakan agama Allah. Namun anaknya (Aiman) tidak ikut dalam perang Khaibar karena kudanya sakit. Ummu Aiman tidak mengetahui keadaan ini sehingga dia mengira Aiman tidak ikut berperang karena takut, maka ia memarahi Aiman dan mengatakannya sebagai penakut.
Di perang Mu’tah,Ummu Aiman mengalami cobaan yang sangat berat. Zaid bin Haritsah, suaminya terbunuh sebagai syahid. Saat itu Rasulullah mengirim pasukan dan mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglimanya. Anas ra berkata “Nabi telah mengabarkan kematian Zaid, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah kepada kaum muslimin, sebelum ketiganya mengetahui berita itu. Beliau bersabda ‘Zaid memegang bendera lalu dia gugur, kemudian dipegang oleh Ja’far lalu dia gugur, kemudian dipegang oleh Abdullah bin Rawahah lalu dia gugur (saat itu mata beliau meneteskan air mata), kemudian bendera dipegang oleh satu dari Pedang Allah hingga Allah memberi kemenangan untuk kaum muslimin” (h.r. Bukhari)

Ummu Aiman di perang Hunain
Tiba saatnya kaum muslimin berhadapan dengan kafir di perang Hunain. Seperti biasanya, Ummu Aiman tidak mau ketinggalan. Ia ikut dalam pasukan islam untuk memperjuangkan agama tuhannya, walaupun hanya dalam bentuk menyiapkan minum bagi para mujahid.
Dua putranya, Usamah bin Zaid dan Aiman juga ikut dalam pasukan. Di perang ini, pasukan muslim sempat terdesak. Banyak tentara muslim yang mundur. Namun Aiman dan beberapa tentara Islam tetap tegar dibarisan perang bersama Rasulullah hingga ia dijadikan symbol keberanian di perang Hunain, hingga akhirnya Aiman gugur sebagai syahid.
Kedudukan Ummu Aiman di hati Rasulullah
Posisi Ummu Aiman di hati Rasulullah tidak tergeser. Rasulullah tidak pernah lupa bahwa Ummu Aiman adalah ibu kedua beliau yang rela berkorban apa saja demi keselamatan beliau. Dan ibu keduanya itu telah mencurahkan semua kasih sayangnya kepada beliau.
Anas berkata”Rasulullah berkunjung ke tempat ummu Aiman. Aku menemani beliau. Ummu Aiman menyuguhi beliau minum. Tapi nabi menolak. Aku tidak tahu apakah beliau sedang berpuasa atau tidak mengingnkan minuman itu. Maka Ummu Aiman marah dan memaki nabi. (h.r. Muslim).
Imam nawawi berkata “dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda ‘Ummu Aiman adalah ibu keduaku’” (Muslim bi Syarhin Nawawi, dalam 35 qishoh Shahabiyah, Mahmud al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Nabi juga memberikan apa yang diinginkan oleh Ummu Aiman, karena beliau sangat sayang kepadanya.
Anas bin Malik berkata “orang-orang muhajirin tiba di Madinah tanpa membawa apapun. Sementara itu, orang-orang Anshar adalah tuan tanah dan rumah. Maka separuh dari hasil bumi mereka diberikan kepada orang-orang Muhajirin setiap tahun. Kebutuhan sehari-hari orang-orang Muhajirin juga mereka cukupi. Saat itu, ibu Anas bin Malik yang biasa dipanggil Ummu Sulaim memberikan pohon kurmanya kepada Rasulullah, lalu Rasulullah memberikannya kepada Ummu Aiman.”
Ibnu Syihab berkata “Anas memberitahuku bahwa setibanya di Madinah, sepulang dari perang Khaibar, orang-orang Muhajirin mengembalikan pemberian orang-orang anshar yang selama ini mereka panen hasilnya. Rasulullah mengembalikan pohon kurma pemberian ibuku dan memberikan kebunnya kepada Ummu Aiman” (h.r. Muslim).

UMMU AIMAN RA (Ibu Asuh Rasulullah Saw) bagian 1

Nama aslinya adalah Barakah. Wanita keturunan Habasyah. Budak yang diwarisi Rasulullah dari ayah beliau (Abdullah bin Abdul Muthallib). Dialah yang mengasuh Rasulullah setelah Aminah (ibunda Rasul) wafat. Dia mengasuh Rasulullah dengan segenap kasih sayang. Ia menikah dengan Ubaid bin Harits Al Khazraji, kemudian memiliki anak bernama Aiman , sehingga dia dipanggil Ummu Aiman.
Ummu Aiman termasuk orang yang pertama kali masuk islam. Sejak mendengar bahwa Muhammad membawa ajaran islam, ia tidak menunda waktu lagi untuk mengikutinya. Hanya saja langkah baiknya tidak diikuti oleh suaminya (Ubaid bin Harits Al Khajrazi), akhirnya keduanya berpisah.
Setelah berpisah dengan Ubaid, Allah memberinya suami dari kalangan muslim yang akan membimbingnya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dia adalah Zaid bin Haritsah, budak milik Khadijah pemberian dari keponakannya, Hakim bin Hizam. Setelah Khadijah menikah dengan Rasulullah, Rasulullah meminta Zaid kepada Khadijah, dan Khadijah mmberikannya. Sejak saat itu Zaid menjadi milik Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah memerdekakannya, lalu Zaid menikah dengan Ummu Aiman. Mereka dikaruniai anak bernama Usamah bin Zaid. Zaid dan Usamah sangat disayangi Rasulullah. Para sahabat biasa menyebut Usamah sebagai “kesayangan putra kesayangan”. Semua anggota keluarga ini memang punya tempat tersendiri di hati Rasulullah.
Rasulullah pernah bersabda “Zaid, kamu adalah budak yang kumerdekakan. Kamu bagian dariku dan akan bersamaku. Orang yang paling aku sayangi adalah kamu.” (h.r. Ahmad dalam 35 shiroh shahabiyah, Mahmud al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Mengenai kasih sayang Rasulullah kepada Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar ra pernah bercerita “Nabi mengirim satu pasukan dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pemimpinnya. Beberapa orang meremehkan kepemimpinannya. Maka Rasulullah SAW bersabda “jika kalian meremehkan kepemimpinannya, berarti kalian meremehkan kepemimpinan ayahnya sebelum ini. Demi Allah, dia diciptakan sebagai pemimpin. Dia adalah orang yang paling aku suka, dan anaknya ini adalah orang yang paling aku suka setelah ayahnya.” (h.r Bukhari dalam 35 Shiroh Shahabiyah, Mahmud al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Aisyah ra berkata “Rasulullah tidak mengirim Zaid bin haritsah dalam suatu pasukan kecuali beliau menjadikannya sebagai penggantinya.”(h.r Ahmad)
Salmah bin Akwa pernah bercerita “Aku berperang bersama Rasulullah dalam tujuh peperangan, dan bersama Zaid bin Haritsah dalam Sembilan peperangan. Rasulullah menjadikannya sebagai pemimpin kami.” (Thabaqat ibnu Sa’d dalam 35 shiroh Shahabiyah, Mahmud al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Ibnu umar ra pernah bercerita “Umar memberikan bagian kepada Usamah bin Zaid lebih besar dari bagianku. Maka aku menanyakannya. Umar menjawab ‘dia lebih disayangi Rasulullah daripada kamu. Ayahnya lebih disayangi Rasulullah dari pada ayahmu.” (Ibnu Hajar berkata, shahih (Al Ishabah 4/50)).

%d blogger menyukai ini: