UMMU AIMAN RA (Ibu Asuh Rasulullah Saw) bagian 2

………Ibnu umar ra pernah bercerita “Umar memberikan bagian kepada Usamah bin Zaid lebih besar dari bagianku. Maka aku menanyakannya. Umar menjawab ‘dia lebih disayangi Rasulullah daripada kamu. Ayahnya lebih disayangi Rasulullah dari pada ayahmu.” (Ibnu Hajar berkata, shahih (Al Ishabah 4/50).
Bahkan Rasulullah saw pernah berkata “Aku masuk syurga dan disambut oleh seorang remaja putri. Aku bertanya ‘kamu milik siapa?’ dia menjawab ‘milik Zaid bin Haritsah”(h.r Ruyani dan Dhiya dari Buraidhah).
Ketika penderitaan dan siksaan yang dialami kaum muslimin semakin berat, Rasulullah mengizinkan mereka untuk berhijrah ke Madinah. Maka kaum muslimin berhijrah ke Madinah untuk menyelamatkan aqidah mereka dari kekejaman kaum kafir Quraisy. Ummu Aiman termasuk dalam rombongan hijrah itu. Di perjalanan ada kejadian luar biasa yang dialami Ummu Aiman. Ustman bin Qasim menceritakan “Ummu Aiman ikut dalam rombongan kaum muslimin yang hijrah ke Madinah. Sore hari, ketika kami sampai di daerah Mansharif (sebelum Rauha), Ummu Aiman yang saat itu sedang puasa merasa sangat lelah dan haus. Tiba-tiba ada ember berisi air terikat tali putih menjulur dari langit. Lalu Ummu Aiman meminumnya. Setelah kejadian itu ia berkata “Setelah kejadian itu aku tidak pernah merasakan haus meskipun ketika berpuasa”. (h.r Ibnu Sa’d dalam 35 Shiroh Shahabiyah, Mahmud Al Mishry, Al I’tishom, 2009)
Ummu Aiman di perang Uhud
Ummu Aiman bersama beberapa kaum wanita bertugas sebagai tim kesehatan dan penyiapan makanan dalam perang Uhud. Di perang Uhud inilah dia menorehkan tinta emas dalam sejarah.
Ketika pasukan panah tidak mengindahkan intruksi Rasulullah, sehingga pasukan musuh berhasil membunuh sejumlah pasukan muslim, dan sebagian pasukan muslim lainnya mundur lari ketakutan, Ummu Aiman menghadang mereka dan melemparkan pasir ke muka mereka seraya berkata “ini bedak yang pantas kalian terima. Ambil pedang kalian” (Dalailun Nubuwwah, Baihaqi). Lalu bersama rekan-rekan wanitanya Ummu Aiman mencari berita tentang Rasulullah, mengetahui beliau selamat, ia merasa tenang.
Ummu Aiman di perang Khaibar
Ummu Aiman ikut dalam perang Khaibar. Ia tidak mau ketinggalan dalam peristiwa ini sebagai tahapan penting dalam penegakan agama Allah. Namun anaknya (Aiman) tidak ikut dalam perang Khaibar karena kudanya sakit. Ummu Aiman tidak mengetahui keadaan ini sehingga dia mengira Aiman tidak ikut berperang karena takut, maka ia memarahi Aiman dan mengatakannya sebagai penakut.
Di perang Mu’tah,Ummu Aiman mengalami cobaan yang sangat berat. Zaid bin Haritsah, suaminya terbunuh sebagai syahid. Saat itu Rasulullah mengirim pasukan dan mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglimanya. Anas ra berkata “Nabi telah mengabarkan kematian Zaid, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah kepada kaum muslimin, sebelum ketiganya mengetahui berita itu. Beliau bersabda ‘Zaid memegang bendera lalu dia gugur, kemudian dipegang oleh Ja’far lalu dia gugur, kemudian dipegang oleh Abdullah bin Rawahah lalu dia gugur (saat itu mata beliau meneteskan air mata), kemudian bendera dipegang oleh satu dari Pedang Allah hingga Allah memberi kemenangan untuk kaum muslimin” (h.r. Bukhari)

Ummu Aiman di perang Hunain
Tiba saatnya kaum muslimin berhadapan dengan kafir di perang Hunain. Seperti biasanya, Ummu Aiman tidak mau ketinggalan. Ia ikut dalam pasukan islam untuk memperjuangkan agama tuhannya, walaupun hanya dalam bentuk menyiapkan minum bagi para mujahid.
Dua putranya, Usamah bin Zaid dan Aiman juga ikut dalam pasukan. Di perang ini, pasukan muslim sempat terdesak. Banyak tentara muslim yang mundur. Namun Aiman dan beberapa tentara Islam tetap tegar dibarisan perang bersama Rasulullah hingga ia dijadikan symbol keberanian di perang Hunain, hingga akhirnya Aiman gugur sebagai syahid.
Kedudukan Ummu Aiman di hati Rasulullah
Posisi Ummu Aiman di hati Rasulullah tidak tergeser. Rasulullah tidak pernah lupa bahwa Ummu Aiman adalah ibu kedua beliau yang rela berkorban apa saja demi keselamatan beliau. Dan ibu keduanya itu telah mencurahkan semua kasih sayangnya kepada beliau.
Anas berkata”Rasulullah berkunjung ke tempat ummu Aiman. Aku menemani beliau. Ummu Aiman menyuguhi beliau minum. Tapi nabi menolak. Aku tidak tahu apakah beliau sedang berpuasa atau tidak mengingnkan minuman itu. Maka Ummu Aiman marah dan memaki nabi. (h.r. Muslim).
Imam nawawi berkata “dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda ‘Ummu Aiman adalah ibu keduaku’” (Muslim bi Syarhin Nawawi, dalam 35 qishoh Shahabiyah, Mahmud al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Nabi juga memberikan apa yang diinginkan oleh Ummu Aiman, karena beliau sangat sayang kepadanya.
Anas bin Malik berkata “orang-orang muhajirin tiba di Madinah tanpa membawa apapun. Sementara itu, orang-orang Anshar adalah tuan tanah dan rumah. Maka separuh dari hasil bumi mereka diberikan kepada orang-orang Muhajirin setiap tahun. Kebutuhan sehari-hari orang-orang Muhajirin juga mereka cukupi. Saat itu, ibu Anas bin Malik yang biasa dipanggil Ummu Sulaim memberikan pohon kurmanya kepada Rasulullah, lalu Rasulullah memberikannya kepada Ummu Aiman.”
Ibnu Syihab berkata “Anas memberitahuku bahwa setibanya di Madinah, sepulang dari perang Khaibar, orang-orang Muhajirin mengembalikan pemberian orang-orang anshar yang selama ini mereka panen hasilnya. Rasulullah mengembalikan pohon kurma pemberian ibuku dan memberikan kebunnya kepada Ummu Aiman” (h.r. Muslim).

Iklan

Posted on Juli 14, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

balas

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: