UMMU AIMAN RA (Ibu Asuh Rasulullah Saw) bagian 3/habis

Rasulullah senang dengan sesuatu yang membuat Ummu Aiman senang. Aisyah ra pernah bercerita “seorang ahli silsilah keturunan datang ke rumah kami. Saat itu Rasul ada di rumah, sedangkan Usamah bin Zaid dan Zaid bin Haritsah tidur-tiduran. Lalu orang itu berkata ‘kaki-kaki ini sama dan ada keterikatan’. Mendengar hal itu Nabi sangat senang dan mengungkapkan kekagumannya kepada orang tersebut. Lalu beliau memberitahukan hal itu kepada Aisyah ra”. (h.r. bukhari)
Imam Nawawi berkata “Imam Qadhi menyebutkan bahwa Al Mazi berkata ‘Sebelum itu orang-orang mencela nasab Usamah karena kulitnya sangat hitam, sedangkan Zaid (ayahnya) berkulit putih. Tapi setelah ahli silsilah keturunan itu menyebutkan bahwa Usamah adalah anak Zaid meskipun warna kulit mereka berbeda, Nabi sangat senang karena tidak ada peluang lagi bagi orang-orang untuk meragukan Usamah. Orang-orang Arab saat itu sangat percaya kepada ahli silsilah keturunan.” (Syarhin Nawawi dlm 35 Shiroh Shahabiyah, Mahmud Al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Ummu Aiman senang dengan semua yang menyenangkan hati Rasulullah. Dia juga sedih ketika melihat beliau sedih. Melihat Rasul sangat bahagia atas pernikahan Ali dengan Fathimah, Ummu Aiman juga turut bahagia. Ia bersama Asma binti Umais mempersiapkan semua yang dibutuhkan Fathimah untuk pernikahan.
Saat meninggalnya Zainab putri Rasulullah, Ummu Aiman turut memandikan jenazahnya dengan hati penuh kesedihan. Pada kesempatan lain, Ummu Aiman berdiri membela Aisyah ra ketika beliau diterpa fitnah dalam peristiwa “haditsul ifki”. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan Ummu Aiman punya posisi tersendiri di hati Rasulullah, para Ummul mukminin dan para sahabat nabi.
Ummu Aiman tetap dihormati oleh para sahabat. Setelah Rasulullah wafat, para sahabat sering mengunjunginya.Anas menceritakan bahwa selang beberapa waktu setelah wafatnya Rasulullah, Abu Bakar ra berkata kepada Umar “Mari kita mengunjungi Ummu Aiman, sebagaimana dulu Rasulullah mengunjunginya”. Ketika sampai di rumah Ummu Aiman mereka melihat Ummu Aiman menangis. Mereka bertanya “Apa yang membuat bunda menangis? Apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah” Ummu Aiman menjawab “Aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah, akan tetapi aku menangis karena sekarang tidak ada wahyu lagi.” Jawaban itu membuat keduanya turut menangis. Mereka pun larut dalam tangis.” (h.r. Muslim)
Riwayat Ibnu Sa’d (sanadnya shahih) menyebutkan bahwa Anas berkata “Ummu Aiman menangis saat wafatnya Rasulullah. Ketika ada yang bertanya padanya ‘Bunda menangis?’ ia menjawab ‘Demi Allah, aku sudah tahu kalau dia akan wafat. Tapi aku menangis karena dengan wafatnya Rasulullah berarti wahyu sudah tidak ada lagi’”
Ummu Aiman diberi umur panjang. Ia mengikuti masa pemerintahan Abu Bakar ra, Umar ra, hingga Utsman ra. Ketika Umar terbunuh, Ummu Aiman menangis dan berkata “Hari ini islam mulai lemah” (h.r. Ibnu Sa’d). Pada masa pemerintahan Utsman, Allah memanggil Ummu Aiman untuk berkumpul dengan orang yang sangat dicintainya (Rasulullah SAW) di syurga, yang nikmatnya tiada terkira.
Ummu Aiman, wanita luar biasa yang telah mengambil posisi dalam memperkuat pondasi Islam di zaman Rasulullah, telah membuktikan bahwa kemuliaan seseorang hanya terletak pada takwanya, bukan pada status sosial atau hal-hal duniawi lainnya. Kualitas dirinya sebagai muslimah terpancar dari kemampuannya mengasuh Rasulullah sejak kecil dan mendidik kedua anaknya (Aiman dan Usamah bin Zaid) menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa. Keberanian, keteguhan, ketangguhan dan kasih sayang yang terangkum dalam pribadinya menorehkan tinta emas dalam sejarah perjalanan Islam hingga meraih kejayaan.
Ummu Aiman, adalah potret indah seorang muslimah sejati yang bisa menjadi mercusuar di zaman ini, dimana nilai eksistensi wanita sesungguhnya seringkali bias oleh issue emansipasi, kecantikan dan kemolekan tubuh serta budaya hidup glamour dan konsumtif yang seolah telah menjadi tujuan hidup bagi sebagian besar wanita saat ini, sehingga seringkali para wanita lupa, bahwa kekuatan sesungguhnya yang Allah sisipkan dalam penciptaan dirinya adalah kemampuannya untuk menjadi madrasatul ula bagi anak2nya, dan menjadi sebaik-baik perhiasan di dunia ini.
Tapi insya Allah, penulis yakin, saat ini, diantara sekian banyak wanita yang terhipnotis oleh fitnah duniawi, masih ada pribadi-pribadi seperti Ummu Aiman yang istiqomah dengan fitrah sucinya, cerdas dengan dedikasinya, dan teguh dengan keyakinannya kepada Allah swt. Pribadi-pribadi seperti inilah yang akan melahirkan generasi Rabbani yang siap memikul amanah sebagai Khalifah di muka bumi…dan semoga, Allah swt menganugerahkan pribadi seperti itu kepada kita…amiin allahumma amiin…

By : Fathimah Zuhara

Iklan

Posted on Juli 18, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

balas

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: