Author Archives: plkforlife

.: VBAC, MENUJU PERSALINAN MABRUR :.

578428_580763558600501_1487583132_n

“Kok bisa lahiran normal? Kan Hika (kakaknya) sesar, dan belum dua tahun kan?”

Ini adalah pertanyaan “wajib” pasca Alun Sagara Ilmu, anak kedua kami, terlahir tanggal 23 Februari 2013 lalu. Dia memang alumni VBAC alias Vaginal Birth After Caesarian (proses kelahiran normal setelah pada persalinan sebelumnya melalui operasi sesar) setelah kakaknya yang terpaut 20 bulan dilahirkan melalui operasi sesar karena posisi yang sungsang (kepala diatas) dan masih jauh dari jalan lahir di usia kehamilan 39 minggu plus bobot yang sudah cukup besar serta beberapa belitan tali pusar di lehernya yang konon menghambat pergerakannya untuk bisa sampai ke posisi siap dilahirkan.

Meskipun VBAC bukan istilah maupun hal yang baru, karena ternyata sudah booming sejak tahun ’80-an  namun popularitasnya berada jauh dibawah istilah operasi sesarnya itu sendiri, dan jelas masih banyak orang khususnya wanita – calon ibu yang belum familiar dengan istilah ini termasuk saya yang baru ngeuh dan menjadi tergerak untuk mendalaminya pada saat kehamilan kedua. Itupun karena awalnya saya melahirkan melalui operasi dan jika memungkinkan tidak ingin melaluinya lagi.

Alasan memilih VBAC

Orang tua kami sempat bertanya dalam kekhawatiran mereka, kenapa sih meni keukeuh ingin melahirkan normal? Kan resikonya seram. Dan memang demikian adanya. Dari sumber-sumber bacaan yang saya lahap selama masa kehamilan, selalu disebutkan bahwa resiko VBAC adalah terjadinya rupture uterus alias robekan pada uterus di lokasi bekas jahitan operasi yang tentu bisa berakibat fatal terutama bagi si ibu hingga bisa mengakibatkan kematian. Selain itu tidak mustahil usaha persalinan normal saya gagal dan ujung-ujungnya saya bisa berakhir di meja operasi lagi. Kalau hal itu terjadi maka saya “rugi” karena bukan saja akan menghadapi orang-orang yang berkata “Tuhhh kannn (;p)…” sayapun menanggung resiko komplikasi pasca operasi yang menurut tinjauan medis kemungkinannya akan meningkat dan bisa lebih parah bila dibandingkan jika saya menjalani operasi tanpa sebelumnya melewati tahapan percobaan persalinan normal.

Lantas kenapa saya tetap ingin mencoba? Padahal sebenarnya jika melihat sejarah operasi sesar saya yang sebelumnya alhamdulillah termasuk lancar jaya dan memuaskan hasilnya. Buktinya biarpun pemulihannya cukup lama dan agak lebay, namun secara fisik tidak ada trauma pasca operasi yang saya alami entah itu infeksi, pendarahan, dsb. Anastesi spinal yang saya jadikan pilihan juga memungkinkan saya untuk menyegerakan bonding fisik dengan bayi saya dan keinginan IMD pun terlaksana (meskipun bayangan-bayangan mengenai ruang operasi dan apa yang saya lalui disana terekam jelas dan menghantui saya berhari-hari dan cukup membuat saya bermimpi buruk dengan settingan ala buku “Goosebumps”-nya R.L. Stine bermalam-malam lamanya *ketahuan deh, saya ini anak tahun berapaan:p). Jahitan sayapun termasuk samar di badan dan terbukti (lewat VBAC yang saya lalui) bahwa kualitas jahitannya juga baik adanya. Orang tua saya bilang, bukannya banyak selebritis diluar sana yang rela masuk ruang operasi demi tanggal cantik di akte anaknya, atau agar penampilan selalu terjaga, lah ini yang untuk alasan keamanan kok ya malah kepengen cari “musibah”, heu<(_ _)>.

Wajar lah ya jika jadi banyak orang beranggapan bahwa jalur operasi adalah yang paling aman dan nyaman untuk melahirkan bayi ke dunia kalau pembandingnya selebritis. Apalagi ini orang tua mengkhawatirkan anaknya yang beresiko luka operasinya bisa terbuka dan bisa gawat seketika kalau salah prosedur persalinannya. Yah, baiklah saya akui saja bahwa saya memang tidak punya nyali selebritis dunia, dan itu memang salah satu alasan saya tak mau lagi didorong di meja beroda untuk menghadapi pisau yang akan menyayat kembali rahim saya *aww…linu sendiri~*_*~

Tapi alasan saya untuk mengusahakan VBAC bukan karena itu saja. Saya punya keyakinan bahwa hamil dan melahirkan yang kelak dilanjutkan dengan menyusui serta mengambil porsi terbesar dalam membesarkan sang anak adalah hal yang sudah tersistem sedemikian rupa. Pre planted, meminjam istilah suami saya, dari Allah SWT sang Pencipta bagi seorang wanita. Dan karenanya keyakinan bahwa “Karena saya hamil maka saya bisa melahirkan” bagi saya adalah bagian dari keimanan, sebagaimana layaknya saya juga meyakini bahwa jika saya tidak dikaruniai kehamilan maka saya pastilah dipercaya Allah untuk mengemban tanggung jawab dalam bentuk lainnya.

Alasan lainnya adalah untuk menghindari operasi sesarnya itu sendiri ya tentunya untuk menghindari efek negatif dari operasi itu. Meski seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa operasi saya termasuk lancar dan baik hasilnya tapi itu tidak lantas otomatis menjamin bahwa operasi berikutnya akan sama suksesnya. Resiko-resiko umum seperti infeksi, pendarahan, efek negatif dari obat bius maupun antibiotik bagi ibu dan bayi, dan tentu juga resiko kematian yang menyertai operasi tentu tetap harus diwaspadai dan diantisipasi. Belum lagi biaya operasi yang tinggi, rasa sakit pasca operasi yang tidak pulih dalam hitungan hari yang mana selain tidak nyaman juga sangat membatasi pergerakan dan menyulitkan saya untuk berkegiatan terutama untuk menyusui dan mengurus sendiri sang bayi. Lalu ada juga resiko gangguan kesehatan yang umum terjadi pada bayi yang dilahirkan melalui jalan operasi yang juga kami alami pada anak pertama kami yaitu gangguan pernafasan dan alergi. Belakangan saya juga membaca bahwa bayi yang diahirkan melalui operasi rawan dengan gangguan otak serta trauma, selain juga berpengaruh pada sistem kekebalan tubuhnya.

Namun ini tidak berarti bahwa saya menganggap keberadaan jalan operasi sebagai suatu kejumudan. Bagi saya, operasi adalah alternatif yang dapat dipertanggungjawabkan asalkan usaha maksimal supaya bisa melahirkan normal sebelumnya sudah dilaksanakan. Apalagi setelah membaca berbagai sumber yang menyebutkan bahwa VBAC bukan suatu kemusykilan dan justru malah mempunyai banyak sekali kelebihan daripada operasi sesar berulang (salah satu sumbernya ada di sini), terutama bagi saya dan suami yang tidak menolak jika Allah kelak masih mempercayakan beberapa anak lagi *hehehe, bukan keluarga lingkaran biru ini mah:p. Inilah yang justru mengantarkan saya pada alasan terakhir dan terpenting bagi saya untuk mengusahakan kelahiran normal, yakni karena saya yakin bahwa saya memenuhi keriteria sebagai kandidat untuk VBAC. Tentu saja keyakinan ini dikuatkan oleh tinjauan medis:D

Prayarat VBAC

Seperti yang saya singgung diatas, salah satu prasyarat utama seseorang boleh melakukan VBAC adalah bahwa orang tersebut memenuhi kriteria-kriteria sebagai kandidat VBAC. Apa saja kriterianya?

  • Pertama, alasan yang mendasari dilakukannya bedah sesar sebelumnya bukan dikarenakan hal yang permanen. Artinya kondisi tersebut bisa diusahakan agar tidak terjadi pada kehamilan yang selanjutnya. Dalam kasus saya, posisi bayi sungsang, bukanlah hal yang permanen. Contoh alasan permanen misalnya jika saya memiliki cacat tubuh yang membuat saya tidak memungkinkan untuk melakukan usaha persalinan normal misalnya cacat tulang pinggul.
  • Kedua, riwayat kesehatan. Kandidat VBAC tidak boleh memiliki riwayat penyakit yang memungkinkan terjadinya gangguan saat proses persalinan normal misalnya herpes atau penyakit kelamin, gangguan jantung, obesitas akut, atau diabetes. Alhamdulillah daftar tersebut bisa saya coret semua.
  • Ketiga, usia. Sebetulnya tidak ada patokan resmi berapa batas usia untuk bisa menjadi kandidat VBAC karena yang lebih utama adalah kondisi kesehatannya, jadi untuk memperoleh penilaian objektif sangat disarankan bagi calon kandidat VBAC untuk berkonsultasi dengan dokter kandungannya. Yang jelas saya (29 th kala itu) plus kondisi kesehatan yang Alhamdulillah sedang baik dinilai cukup untuk mengusahakan persalinan normal yang sehat.
  • Keempat, kandidat VBAC tidak boleh memiliki masalah dengan jahitan pada luka operasi sebelumnya (baik itu karena operasi sesar maupun jejak operasi lainnya yang posisinya di daerah perut atau organ vital lainnya). Misalnya dalam hal operasi sesar kita bisa menganalisis dari seberapa sering dan sehebat apa gangguan pada bekas luka kita rasakan dan jika memang ada maka lebih baik untuk memeriksakannya ke dokter. Dalam kasus saya, sejauh yang saya rasakan luka bekas robekan dan jahitan operasi saya tidak bermasalah dan saya juga tidak pernah mengalami rupture uterus yang konon kemunculannya ditandai dengan rasa nyeri sangat hebat di bagian luka dan air kencing berdarah. Untuk mendukung penilaian ini sebenarnya dapat dilakukan salah satunya dengan cara berkonsultasi dengan dokter yang bertanggung jawab terhadap operasi kita. Dalam hal jahitan luka operasi sesar kita dapat menanyakan apakah jahitan yang dipasangkan merupakan jahitan ganda atau jahitan tunggal, bila kita memperoleh jahitan ganda maka kemungkinannya untuk VBAC lebih aman. Posisi jahitan juga berpengaruh bagi kesuksesan VBAC, posisi yang direkomendasikan yakni berada di bagian bawah uterus dangan posisi horizontal.
  • Ketebalan dinding rahim. Lebih tebal dinding rahim seseorang maka kemungkinan sukses ber-VBAC-nya pun lebih baik karena diharapkan ia akan lebih kuat menerima tekanan dan regangan yang diakibatkan proses persalinan alami. Lagi-lagi saya pun lolos dari prasyarat yang satu ini, Alhamdulillah. Untuk mengetahui ketebalan dinding rahim, mintalah dokter Anda untuk mengukurnya pada saat usia kandungan belum terlalu besar.

Ini semua, menurut dokter Hendra Gunawan, salah seorang dokter spesialis kandungan pro VBAC yang kami temui, sudah cukup sebagai modal awal sebagai kandidat VBAC.

lebih detail mengenai prasyarat VBAC bisa dibaca di artikel berikut : http://en.wikipedia.org/wiki/Vaginal_birth_after_caesarean dan http://americanpregnancy.org/labornbirth/vbac.html ).

Prasyarat lainnya adalah dukungan tenaga medis yang mumpuni. Ini lumayan tricky nih, karena kalangan medis masih terbagi dua dalam menyikapi VBAC. Ada yang pro dan ada yang menentang sangat keras. Tapi insyaAllah seiring dengan munculnya komunitas-komunitas pengususng gentle birth kini makin mudah menemukan dukungan medis untuk melakukan VBAC, salah satu komunitas yang cukup recommended adalah komunitas Gentle Birth untuk Semua (GBUS).

Saya sendiri beruntung karena menemukan bidan Lidya Wati, tempat kami menimba ilmu dan pemahaman akan proses kehamilan dan persalinan dari sudut pandang Islam (di Sawangan – Depok), bidan Okke Efrina dan tim nya yang menggawangi persalinan saya (kini membuka praktik Bumi Ambu di Bandung) dokter Hendra Gunawan (di Hermina Pasteur Bandung) dan dokter Amilia Siddiq (di Borromeus Bandung) yang mendukung penuh rencana VBAC saya, dari mereka saya mendapat masukan-masukan yang sangat bermanfaat dalam mengusahakan persalinan normal impian saya:).

Prasyarat VBAC selanjutnya adalah saat menjalani persalinan harus diusahakan sealami mungkin. Artinya tidak boleh “dibantu” dengan induksi buatan, apalagi vacuum. Proses mengejan juga harus sealami mungkin, harus sesuai dengan ritme tubuh, tidak dibantu dengan tekanan dari luar (praktik menekan bayi lewat perut ibunya yang dulu masih dilakukan kini sebetulnya sudah dilarang tapi kadang masih ada yg melakukan). “Harus sabar, jangan di gas” begitu kata dokter Hendra Gunawan menekankan dalam salah satu sesi konsultasi kami.

Terkait dengan prasyarat terakhir, ini mengisyaratkan pentingnya menjaga kondisi ibu dan janin selama masa kehamilan hingga waktu persalinan. Tak berbeda dengan kondisi kehamilan lainnya Ibu harus mengupayakan agar asupan nutrisi ia dan janinnya terpenuhi (tapi tidak berlebihan hingga mengakibatkan obesitas baik pada ibu maupun janin) sehingga bukan hanya bayinya tumbuh sempurna di rahim sang bunda tapi juga ibunya memiliki daya tahan dan energi yang prima untuk dihamburkan saat persalinan nanti yang memang sangat menguras tenaga;p.

Selain itu usaha-usaha juga harus dioptimalkan utamanya pada usia kandungan 5 bulan ke atas untuk memposisikan bayi pada jalan lahir karena ini akan mempengaruhi kesuksesan persalinan normal. Induksi alami juga bisa dilakukan pada usia kehamilan tua atau saat berat janin sudah cukup untuk syarat kelahiran (diatas 2,5kg) sehingga dapat melancarkan usaha persalinan .

Sisanya ya tergantung pada do’a-do’a serta tentu saja kehendak sang Maha Pencipta:)

Perjuangan untuk sukses ber-VBAC dan menuju persalinan mabrur

Keberhasilan VBAC saya bukanlah keberuntungan, melainkan hasil dari do’a-do’a dan sejumlah perjuangan. Jika saya runut ulang, saya ingat bahwa perjuangan pertama saya yakni mengusahakan dukungan keluarga. Ini menjadi prioritas utama dalam birthplan saya karena saya butuh mereka untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang ramah bagi saya dan janin saya termasuk keleluasaan waktu untuk memberdayakan diri selama dalam kehamilan baik itu untuk sekedar bermeditasi dalam bentuk solat dan membaca Al-Qur’an misalnya, senam hamil, atau menyenangkan diri dan sebagainya. Saya juga pasti membutuhkan mereka saat perlu mencari alternatif dan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang sangat mungkin muncul utamanya terkait dengan kehamilan dan rencana persalinan kami. Dan bukan itu saja, saya juga ingin mereka ada disamping saya, berbagi kebahagiaan selama masa kehamilan dan saat nanti melahirkan karena hal itu adalah peristiwa yang sangat menyenangkan! Perjuangan untuk memperoleh dukungan dan kepercayaan dari mereka inilah yang mengantarkan saya pada pencarian fakta-fakta. Saya jadi rajin membaca, juga bertanya pada ahlinya. Saya beruntung karena memiliki keluarga yang sangat tinggi kepeduliannya. Mereka  tidak mau begitu saja mengiyakan rencana saya, termasuk suami saya, meskipun pada akhirnya dia adalah supporter pertama dan utama saya. Bahkan setelah saya memaparkan data-data selain tentu juga setumpuk testimoni yang menurut saya cukup terpercaya. Mereka hanya bersedia mendukung jika rencana VBAC saya memiliki jaring pengaman yang reliable. Permintaan yang tidak berlebihan, malah sangat harus mendapat perhatian. Hal ini mengantarkan kami pada perjuangan berikutnya yakni perburuan!

Yap, kami berburu. Targetnya agar mendapat dukungan dari tenaga medis professional karena sebelumnya dokter yang biasa kami datangi tidak mendukung rencana VBAC saya ini. Selain itu juga mencari tempat bersalin yang nyaman bagi saya dan bisa dijangkau dengan mudah oleh keluarga, dan  memantapkan strategi keamanan pada rencana persalinan. Alhamdulillah semuanya terakomodasi. Dengan mempertimbangkan kemudahan akses bagi kami dan keluarga, kamipun memilih agar persalinan diusahakan berlokasi di kota Bandung dan bukan di Bogor tempat dimana kami tinggal saat ini.

Syukurnya di Bandung kami berjumpa dengan praktisi-praktisi medis yang pandangannya mengenai persalinan sangat membesarkan hati. Di kota ini pula kami langsung jatuh hati pada sebuah klinik bersalin kecil namun resik dan apik sehingga memutuskan untuk mengusahakan persalinan disana. Kendalanya di klinik tersebut (saat persalinan saya) tidak ada dokter spesialis kebidanan dan fasilitas untuk menangani kondisi darurat (operasi) yang mana keduanya menjadi prasyarat yang diajukan keluarga untuk mendukung rencana persalinan saya. Untungnya sang klinik bertetangga dengan salah satu rumah sakit besar dan terpercaya dengan salah satu dokternya memiliki pandangan yang cukup moderat mengenai rencana persalinan saya termasuk saat kami menempatkannya sebagai rencana cadangan untuk kondisi siaga alih-alih menjadikannya sebagai alternatif utama, alhamdulillah. Dengan demikian maka kami bisa meyakinkan keluarga bahwa jika terjadi kondisi darurat kami bisa segera ditangani disana yang jaraknya bisa ditempuh dengan waktu sepuluh menit saja.

Mengapa kami tidak mengambil alternatif untuk melahirkan di rumah sakit adalah karena saya dan suami meyakini bahwa faktor kenyamanan adalah utama bagi usaha persalinan normal saya. Dan jelas bila dibandingkan riuh rendahnya rumah sakit berikut segala standar proseduralnya maka pemenangnya pasti jatuh pada klinik bersalin ”sederhana” yang tenang, dengan suasana rumahan, dimana saya tidak merasa menjadi pasien disana melainkan hanya seorang calon ibu yang akan melahirkan biasa. Juga dimana saya bisa memilih posisi saat nanti berjuang dalam persalinan, serta jaminan dukungan mental dan pendampingan persalinan alami namun profesional yang mana kami sudah berbagi visi mengenai prosedur dan keinginan-keinginan kami dengan sang bidan yang kami percaya.

Menyertai kedua perjuangan tadi, yang juga tak kalah penting dalam kisah sukses VBAC kami ini adalah proyek kami dalam hal pemberdayaan diri. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, modal awal sebagai kandidat VBAC saja tidak cukup, harus dibarengi dengan ikhtiar saya sendiri untuk mengusahakan hal-hal yang dapat mendukung lancarnya usaha persalinan normal dan menghindari kemungkinan perlunya tindakan-tindaan yang tidak alami.

Mengenai yang satu ini saya merasa beruntung dan mensyukuri keberadaan teknologi karena dengannya kini berbagai informasi bisa dicari. Selain mencari informasi, melalui dunia maya saya juga bergabung dalam komunitas yang beranggotakan sesama ibu hamil yang juga dikawal oleh praktisi kebidanan kawakan. Bagi saya keberadaan komunitas memberikan peranan penting dalam perjalanan kehamilan dan persalinan. Tak hanya kita dapat memperoleh informasi mengenai serba-serbi kehamilan dan persalinan tapi yang justru lebih utama dari komunitas adalah karena didalamnya mengakomodasi pertukaran visi dan menguatkan motivasi. Dan tentu saja disini saya juga memperoleh banyak teman yang merupakan sesama ibu hamil untuk berbagi.

Seluruh perjuangan kehamilan dan persalinan ini mengantarkan kehamilan saya menjadi usaha “persalinan mabrur.” Mabrur? Yap, karena gara-gara hamil ini saya jadi menemukan banyak ilmu yang bisa saya terapkan sehari-hari, bahkan saat saya sudah tidak hamil lagi. Terutama ilmu mengenai pemberdayaan diri. Ilmu ini membuat saya menyadari bahwa kehamilan, yang merupakan satu fragmen kecil saja dalam kehidupan keseluruhan, harus dikawal dengan kesadaran diri. Artinya saya harus selalu ingat bahwa apapun, sekecil apapun hal yang saya kerjakan bisa berpengaruh pada kehamilan saya.

Jika sebelum ini yang saya perhatikan terfokus pada masalah nutrisi kini saya tau dan mesti ingat bahwa posisi duduk saya, posisi tidur saya, sampai cara saya mengolah nafas dan bahkan cara saya memenej pikiran bisa berpengaruh pada kehamilan saya. Maka dari itu saya harus memilah dan memilih hanya hal-hal yang efeknya baik saja bagi kehamilan saya. Nah pada skala besar, ini sama dengan konsep bertaqwa makanya saya menamainya sebagai usaha untuk mencapai persalinan mabrur.

Proyek pemberdayaan diri saya, si ibu hamil, tidak akan berjalan lancar jika bapak hamil saya yang tercinta tidak mendukung dan ikut menjadi sumbangan daya. Dialah partner utama saya untuk berdiskusi, menyaring informasi, saling membesarkan hati setiap saat setiap hari. Dialah yang mengakomodasi mobilitas saya kesana kemari, dia juga ikut menemani dan bahkan dengan sangat proaktif bersama-sama setiap minggu bolak-balik ke kota tetangga untuk mendalami ilmu mengenai kehamilan dan persalinan pada seorang bidan yang luar biasa akomodatif dan motivatif sehingga saya tidak merasa berjuang sendiri, karena suami saya jadi kurang-lebih memahami apa yang tengah saya hadapi dan alami sehingga tingkat empatinya jadi begitu tinggi<3.

Termasuk saat masa penantian persalinan dimana kami harus terpisah jarak Bogor-Bandung, suami saya rela berbagi fikiran antara pekerjaannya dengan saya. Dia yang ikut memutar otak serta memeras keringat mengumpulkan rejeki untuk mengakomodasi rencana persalinan, Dia yang sambil menuntut namun juga ikut mencari alternatif-alternatif bagi rencana persalinan, Dia yang tak pernah lupa mengabsen checklist pemberdayaan diri saya, mulai dari asupan nutrisi hingga menemani saya senam pagi. Dan saya sangat merindukan absensinya itu kini: sudah cukupkah protein saya hari ini? Apakah karbo, gula dan garamnya sudah dikurangi, sementara sayuran dan buah-buahan dilebihi? Minum sudah berapa banyak yang terisi? Nanti jangan lupa jalan kaki. Hehe, cerewet yang menyenangkan hati. Dia juga tidak keberatan menjadi tukang pijit perineum meskipun sambil meringis-ringis karena takut mengakibatkan ngilu pada saya nanti (dan Alhamdulillah pijatan-pijatan linu itu, bersama dengan usaha kami yang merutinkan berenang setiap minggu, dan kegel yang membuat pegal, mengantarkan saya berhasil melahirkan tanpa luka berarti pada bagian perineum hingga tidak memerlukan jahitan) dan sebagainya.

Final dari semua perjuangan kami itu adalah proses persalinan penuh cinta di sebuah kamar bernuansa biru sewarna nama bayi di kandungan saya – “Sagara” yang berarti samudera. Pada usia kehamilan 38 minggu, dua minggu lebih awal dari due date nya. Didampingi sepenuhnya oleh suami serta tiga bidan yang selalu siaga.

Persalinan yang lancar dan alami, diawali dengan rembesan air ketuban dan bercakan darah di subuh hari, bukaan pertama. Sayapun tidur miring kiri untuk mencegah air ketuban rembes lebih banyak lagi. Tenggat saya 6 jam untuk menanti bukaan tergenapi, jika tak terjadi maka saya ikhlash dengan operasi. Tepat setengah jam sebelum tenggat terlewati jalan lahir terbuka dengan pasti, Alhamdulillah tak sia-sia perjuangan saya setiap hari jalan kaki, dan menggiatkan berbagai cara induksi alami.

Bohong jika saya mengatakan bahwa prosesnya melewatkan rasa sakit (meskipun sebagian ibu melahirkan nampaknya memang berhasil melewatkannya, subhanallah). Sakit tentu saja. Tapi sakit ini bukan semacam sakit hati yang membingungkan dan tidak mudah diatasi. Ini adalah sakit yang bisa dipahami dan dengan segera dilalui.

Saya pribadi menemukan bahwa saat saya paham mengenai apa yang sedang dan akan saya hadapi sangat membantu saya dalam proses luar biasa ini. Itulah yang menjadikan belajar menjadi penting untuk para ibu hamil. Memahami bahwa rasa tak nyaman dan kesakitan pada saat kontraksi datang adalah prasyarat yang diperlukan bagi proses kelahiran, bahwa arti dari setiap mulas yang datang adalah bahwa tubuh saya tengah mengakomodasi sang bayi untuk lahir ke dunia ini, dan memahami bahwa yang saya harus lakukan hanya bantuan berupa mengejan dan mensuplai oksigen serta tenaga melaui pernafasan dan kepercayaan diri, maka sayapun bisa melakukannya dengan senang hati. Tak peduli berapa kali atau berapa waktu yang harus kami lalui.

Dan di tarikan nafas terakhir, saat kepala mungil itu meluncur diikuti sempurna tubuhnya, maka tak ada yang tersisa selain bahagia, rasa syukur yang tak hingga, dan saya yakin bahwa semesta pun ikut tertawa, lega:’).

Memuaskan. Hanya kata itu yang dapat mewakili apa yang saya rasakan. Kebersamaan, azan dan iqomat yang dikumandankan, persentuhan dua badan, pendampingan hingga ari-ari oleh sang ayah diputuskan, semuanya adalah I’tikaf kenikmatan yang selamanya tak mungkin terlupakan. Tersimpan rapi dalam memori, dan akan selalu saya putar ulang kembali saat mendampinginya dewasa nanti. Dan impian serta semangat kami untuk menjadi manusia mabrur melalui proses kehamilan dan persalinan ini selalu memotivasi setiap langkah kami. insyaAllah. ❤

421454_574510409225816_2054969214_n

540856_575258935817630_219933777_n

Iklan

Mamang, Ibi, this is Alun’s Leap to Aldulthood!

Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai wajib atau sunnahnya, kita yang muslim sepakat bahwa berkhitan yang sudah dilaksanakan sejak jaman nabi Ibrahim as ini merupakan hal yang dianjurkan.
Kita bisa merujuk pada hadits Nabi berikut ini:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ، اَلْخِتَانُ وَ اْلاِسْتِحْدَادُ وَ نَتْفُ اْلاِبْطِ وَ قَصُّ الشَّارِبِ وَ تَقْلِيْمُ اْلاَظْفَارِ. البخارى 7: 143
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, :Fithrah itu ada lima : 1. Khitan, 2. Mencukur rambut kemaluan, 3. Mencabut bulu ketiak, 4. Memotong kumis, dan 5. Memotong kuku”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 143]

Dan ternyata pandangan medis modern juga mendukung pentingnya melakukan khitan karena terbukti banyak manfaatnya bagi kesehatan.

Makanya sejak mengetahui kalau anak kedua kami adalah laki-laki masalah berkhitan ini sudah langsung kami masukkan dalam agenda hak anak yang harus kami tunaikan along dengan memenuhi segala kebutuhan dasarnya, melaksanakan aqiqah, memberikan pendidikan yang baik, dan kelak menikahkan *Ya Allah, meni asa geus kolot 😂

Itu, dan khusus dalam kasus Alun mah berkhitan juga adalah bagian dari persiapan kami menuju keberangkatan ke Berlin dalam rangka menemani Ama yang sedang tholabul ‘ilmi *ciyeciyeee🙆.

Kami merasa ini penting karena belajar dari kasus beberapa ponakan dan sepupu yang “terpaksa”  harus dikhitan akibat alasan medis (rata-rata karena fimosis) yang munculnya “tiba-tiba” maka kami memilih mengkhitan Alun saat sedang sehat dan saat masih di Indonesia *soalnya memikirkan kemungkinan mengkhitan Alun di Jerman saja – apalagi kalau gara-terpaksa- sudah bikin saya kleyengan😫😷😵

Akhirnya meskipun saya dan siAma jadi agak lebay merasa bersalah karena mengkhitan Alun tanpa mendiskusikannya terlebih dulu sama yang bersangkutan sementara dianya sedang menikmati perkembangan kemampuan motorik kasarnya, dan meskipun kami bisa dianggap melakukan pelanggaran hak asasi manusia, kami mantap memutuskan untuk mengkhitan Alun pada tanggal 7 September 2014 lalu🙏.

Pada akhirnya kami bersyukur untuk keputusan tersebut karena ternyata oh ternyata … saat kontrol di hari ke empat pasca khitan sesuai anjuran dokternya, sang dokter menginformasikan kalau Alun ternyata memiliki fimosis meskipun masih ringan 😮
Dokter mengira alasan kami mengkhitan Alun karena hal itu, padahal kami syok saat diberi tahu, heuheu. Maklum sebelumnya memang kami tidak konsultasi dulu dengan dokter karena selama ini Alun tidak menunjukkan gejala gangguan buang air😯, dan kami juga baru tau kalau fimosis bisa diidentifikasi dari bentuk penis anak. Kalau kulupnya meruncing, nah itu kemungkinan besar sang anak mengidap fimosis😛.

Tapi yah, hikmahnya Alun sekarang terbebas dari fimosisnya.
Jadi bagi orang tua yang memiliki anak laki-laki, bagus juga kalau sesekali konsultasi dengan dokter untuk melihat adanya kemungkinan anak memiliki kelainan fisiologis yang berpotensi masalah di kemudian hari semacam fimosis ini.

Kapan sih waktu yang tepat untuk berkhitan?
Sebenarnya umur 19 bulan seperti Alun saat ini terhitung usia tanggung untuk berkhitan karena si anak sedang dalam masa super duper aktif, bahkan disaat tidur 😅*da Alun mah motah pisan tidurnya
plus anak umur batita begitu agak susah diberi reasoning, tidak bisa disuruh duduk diam atau berbaring untuk menghindari gesekan pada luka khitannya. Apalagi saat obat peredam sakitnya sedang beraksi, mana dia peduli dengan perintah duduk atau berbaring manis … lihat kakaknya lari-lari ya langsung dong dia bergabung sambil haha hihi … tinggallah orang tuanya yang meringis-ringis ngeri :'(.

Belum lagi kendala komunikasi, batita seperti Alun belum bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan dengan kata-kata makanya kami yang mendampinginya kadang dibuat bingung untuk memberi respon yang tepat terutama dalam menyikapi tangisan dan kerewelan Alun pasca dikhitan. Kalau dia menangis kami cuma bisa mengira-ngira alasannya dan yang jadi tertuduh pasti si luka bekas khitannya itu, hihi, padahal mungkin dia menangis karena hal lain 😅. Untunglah Alun termasuk jarang menangis dan tidak terlalu rewel.

Jadi pilihan usia khitan yang enak  adalah waktu bayi (usia 1mgg-3bln) karena bayi belum banyak bergerak sehingga perawatan luka lebih mudah dan cenderung lebih cepat sembuh. Meskipun ya beberapa kalangan menentangnya dengan alasan dapat mengakibatkan efek traumatik pada bayi. Atau tunggu anak sampai bisa diajak berkomunikasi dan diberi pengertian, mungkin saat usia anak 4 tahun atau lebih.

Nah, kalaupun pada akhirnya orang tua memutuskan untuk mengkhitan anaknya pada usia batita mungkin pengalaman kami kemarin bisa menginspirasi😄

Persiapan
Apa sih yang kami persiapkan saat mau mengkhitan Alun kemarin?

Yang pertama tentunya harus menentukan waktu, metode dan tempat khitanan. Terkait dengan hal ini dianjurkan bagi orang tua untuk sekaligus berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah ada hal-hal khusus yang harus diperhatikan terkait kondisi anak (kesehatan, fisiologis, mental), faktor usia, dsb.

Pilihan kami kemarin jatuh ke metode konvensional yang konon paling aman untuk bayi dan balita. Dan diputuskan untuk mempercayakan prosesnya pada para ahli di Klinik Khitan Seno Medika Bandung. Selain karena testimoni orang-orang yang selalu positif, di klinik ini beda dengan klinik lainnya ialah luka sunat tidak diverban, menurut saya ini lebih nyaman bagi anak karena tidak perlu buka tutup verban. Prosesi buka verban itu kan lumayan traumatik lho, coba saja tanyakan pada yang pernah mengalaminya jika tidak percaya😨.

Kliniknya juga nyaman, saya pernah kesana sebelumnya (karena ikut pelatihan  yang berlokasi disana) dan jadi tahu kalau tempatnya memang nyaman, terutama untuk para pengantar yang membawa anak kecil. Kalau untuk calon terkhitan sih saya tidak tahu karena belum pernah masuk ruangan khitannya. Tapi profesionalitas dan kredibilitas tim dokternya terkenal baik.

Tempat parkir lumayan luas, dan ada mushalla yang nyaman. Ini penting sekali bagi para pengantar karena khitan disini dilangsungkan dari jam 5 subuh, dan semua pasien harus datang minimal setengah jam sebelumnya untuk mengambil nomor antrean. Pemilihan waktu di subuh hari ini dikarenakan anak belum terlalu banyak beraktifitas sehingga aliran darahnya tidak terlalu kuat.

Berikutnya persiapan keuangan. Biaya khitan berbeda-beda tergantung penyelenggara. Di seno medika biaya khitan untuk anak dibawah 4 tahun adalah 1jt 105rb rupiah karena termasuk pelayanan VIP.  Selain faktor tingkat kesulitan, yang membedakan pelayanan VIP dg reguler adalah penggunaan obat bius. Obat yang digunakan pada layanan reguler efek biusnya hanya bertahan selama 4jam, sedangkan yang VIP ini sampai 7jam. Cocok bagi kami yang langsung membawa Alun ke Sumedang:)

Selain itu di ruangan VIP yang terletak di lantai dua klinik juga lebih nyaman, kursi tunggunya terdiri atas beberapa sofa empuk dan kursi-kursi yang mengelilingi meja bundar berlapis kain putih dengan dihias pita hijau ala di tempat kondangan:), selain itu bagi pengantar disediakan juga suguhan teh dan kopi panas serta beberapa jenis makanan ringan. *Tapi saya mah boro-boro makan da tegang 😅.

Persiapan lainnya apa ya?hmmm kami juga mempersenjatai diri dengan barang-barang yang bisa menghibur Alun: mainan, makanan dan minuman pavoritnya. Just in case dia cranky di jalan, meskipun ternyata dia tidur di sepanjang perjalanan pulang, hehe. Alhamdulillah 😇.

Oh ya, untuk bayi atau batita yang masih belum bisa buang air sendiri siapkan juga beberapa celana untuk dikorbankan, di gunting (dilubangi) bagian penisnya. Tujuannya agar ketika buang air, air seni nya tidak terlalu banyak mengenai luka karena luka yang sering terkena air lebih sulit untuk sembuh dan bisa jadi harus mendapatkan treatment khusus. Pada hari H sunat anak dipakaikan celana longgar tanpa resleting atau sarung (sarung instan lebih enak) karena nanti akan dipakaikan sabuk berpenyangga.

Terakhir, diluar itu semua yang sangat perlu dipersiapkan adalah mental kita, orang tuanya.
Terus terang meskipun rencana ini sudah diwacanakan jauh-jauh hari, tetap saja rasanya kami tidak benar-benar siap, terutama secara mental. Malam sebelum hari H nya aja Saya masih bertanya pada Ama apa kita batalkan saja ya rencana khitannya? Mudah-mudahan Alun tidak fimosis sampai kita pulang dr Jerman…heuheu, untung lah Ama berpendirian kuat dan berlogika sehat jadi tidak ikut panik dan rencana khitan Alun bisa tetap terlaksana😁. Walau demikian tetap saja kami berdua tidak bisa tidur tenang, gelisah dan deg-degan semalaman. Walhasil Alun ikutan resah juga tidurnya, hati orang tua memang terkoneksi sinyal HSDPA dengan anaknya😆.

Jadi untuk para ortu yang berencana mengkhitan anaknya, persiapkan mental Anda. Minta dukungan dari orang-orang terdekat supaya ikut membesarkan hati kita. Mendengarkan dan membaca cerita-cerita sukses khitanan orang-orang juga lumayan membantu memberikan gambaran akan apa yang bakal dihadapi nantinya.

Tak usah panik, apalagi sampai menangis-nangis bombay segala. Percayalah pada ahlinya, insyaAllah anak akan baik-baik saja saat disunat. Hilangkan pikiran buruk yang membayangkan bagaimana kalau-kalau dokternya mengantuk dan jadi salah mengiris, atau anaknya meronta-ronta dan kabur sambil berdarah-darah dari kasur tindakan sebelum sunatnya beres *iya saya kepikiran itu semua sampe sesak nafassss…hwaaaaa😥

Post treatment & side effects
Kata seorang tetangga saya yang bijak, “Setelah dijalani mah ngga serumit yang dibayangkan“ ternyata benar😁.

Alhamdulillah ternyata kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat saya tidak bisa tidur dan jadi lebay itu tidak terjadi dan segalanya berjalan baik-baik saja. Ternyata kebijakan pihak klinik untuk tidak mengijinkan pengantar ikut mendampingi proses khitan malah melegakan, soalnya seandainya saya ikut mendampingi (sangat) bisa jadi malah mengganggu kelancaran dokter beraksi, hehe.

Kekhawatiran saya kalau Alun rewel dan membuat senewen orang serumah juga alhamdulillah tidak terjadi, Alun cuma menangis saat lukanya ditetesi obat, selain itu dia okidoki saja.  Bahkan saat obat bius habis efeknya pun dia baik-baik saja.

Saat pertama kali buang air kecil Alun sempat menangis tapi kali selanjutnya sudah biasa saja, malah sekarang dia punya kebiasaan baru berseru-seru bahagia “pipiiisss pipiiss” sambil memainkan air seninya dengan kakinya😑*dasar bocah…

Ah ya, satu hal yang perlu diperhatikan adalah cara membersihkan kencing, karena kencing termasuk najis yang tidak boleh dibawa saat sholat. Untuk detail caranya bisa dipelajari disini.

Secara umum efek samping dari khitan untuk Alun hanya peningkatan demand ASI yang sangat tinggi malah kadang sampai menolak makan dan memilih ASI sampai tertidur *serasa kembali ke jaman bayi 😪

Efek lainnya, sekarang saya jadi tau bahwa Alun kalau malam sudah tidak kencing sama sekali, pas subuh saja baru deh car-cir-cur 😂.
Kekhawatiran kalau malam dia gelutukan kesana kemari seperti biasanya juga ternyata tidak terjadi, entah bagaimana dia tidurnya anteng sekali, telentang tanpa berubah arah 😶padahal sehari-hari  kasur ukuran raja habis dia putari semua :?. Padahal lagi saya dan Ama sudah bersiaga piket untuk menjaga agar posisi tidur Alun tidak membahayakan lukanya😤.

Penyembuhan
Jangan berharap kesembuhan instan (note to myself). Segala sesuatu ada prosesnya, mari kita nikmati bersama😇. Awalnya kami *saya ding memang sempat ngeyel mencari alternatif khitan berdasarkan kecepatan penyembuhan, berharap ada yang begitu selesai khitan lukanya langsung kering dan bisa dipakaikan diaper lagi. Hehe. Tapi yah secanggih apapun teknologi khitan saat ini tentu saja belum ada yang demikian, jadi lebih baik berpedoman pada keamanan saja. Yang penting kita mau mendampinginya dengan sabar dan telaten ;).

Alun sendiri lukanya baru mengering di hari ke tiga, itupun belum sempurna. Tapi dia sudah bisa tidur miring dan nampaknya tidak sakit saat terbentur-bentur ringan tanpa dibantu obat penghilang sakit. Meskipun begitu sejak hari pertama pun aktifitasnya tidak terlalu terganggu, dan dia tetap ceria seperti biasanya:).

Ya, demikianlah sekelumit cerita khitanan si anak batita 😁. Lagi-lagi sebuah proses yang penuh nilai pembelajaran bagi kami orang tuanya. Sekali lagi, alhamdulillah 😇.

image

Sesaat sebelum disunat, ternyata sempat diabadikan😙

image

Ruang tunggu VIP Klinik Seno Medika

image

Celana-celana yang turut berkorban

image

Si batita sunat yang ceria

Lihat dokumentasi lengkapnya di https://m.facebook.com/ahmariama/albums/851599948183526/
*warning, cute version ahead! 😉

Bonus, 7 hal unik tentang khitan *ala on the spot😆:
1. Sejarah khitan dijelaskan dalam hadits berikut :
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اخْتَتَنَ اِبْرَاهِيْمُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ هُوَ ابْنُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً بِالْقَدُوْمِ. مسلم 4: 1839
Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda, “Nabi Ibrahim ‘AS berkhitan saat beliau berusia delapan puluh tahun dengan menggunakan kampak”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1839]
2. Dalam hadits tersebut kata بِالْقَدُوْمِ jika dibaca bilqoduum, artinya “dengan kampak”, tetapi jika dibaca bilqodduum, artinya “di kota Qoddum”, di daerah Syam *membaca keterangan ini saya langsung berharap jika artinya nama daerah, soalnya ngeri gitu kalau membayangkan sunatan menggunakan kampak😱
3. Bukti ilmiah yang menunjukkan sejarah khitan tertua ada di Mesir yakni ditemukannya relief yang diyakini berasal dari tahun 2. 400 SM di pemakaman kuno Saqqara yang menggambarkan prosesi khitan.
4. Ahli bedah di Bellevue Hospital Medical Collage pernah menggunakan metode khitan untuk menyembuhkan suatu kasus kelumpuhan pada seorang anak laki-laki berusia 5 tahun.
5. Praktik khitan pada wanita di negara-negara Afrika pada prosesnya melukai bahkan di beberapa daerah memutilasi bagian klitoris wanita, tak heran jika hingga kini khitan pada wanita memunculkan kontroversi.
6. Di Indonesia terdapat banyak tradisi yang mengikuti prosesi sunatan, dari mulai arak-arakan macam kuda renggong di Sumedang- Jawa Barat, tradisi meneteskan darah ayam di kepala anak calon sunat di Banyuwangi, sampai yang membuat saya senewen yaitu tradisi sifon di NTT yang saking senewennya membuat saya ogah untuk menuliskannya disini 😬 mangga we baca sendiri ah.
7. Nelson Mandela menuliskan pengalaman sunatnya di dalam otobiografinya.

Hoax atau fakta? Silakan cari sendiri kebenarannya, da Inimah hanya bonus semata ;)😄.

Salam Hangat.
Mbunya Alun si batita sunat.

“Mengabadikan Spontanitas”

Aslm wrwb..
Sudah lama tulisan tdk meneguhkan eksistensi, kali ini pas ada momentumnya..jadi mohon maklum adanya (bukan bermaksud meneguhkan eksistensi) (jadi apa dong?)

Apapun lah..semoga enjoy efek ke pembacanya.. Maaf sedikit curcol. That’s something I can’t keep myself.

Ini adalah nasihat sembrono seseorang kepada sodaranya. Penuh aroma kegalauan disana sini.. Dan salah satu motivasi penulisannya adalah: Mengabadikan Spontanitas

Selamat enjoy dalam kegalauan 😀

______________________________

Kepada Orang yang (diam diam) aku sayangi..
____________________________

Bicara padamu kau tak bisa dengar lagi..
Bukan kau tuli, hatimu yang menjejak terlalu tinggi..

Menulis ini bukan untuk kau pahami..
Tapi sesak itu yang memaksaku..bicara sendiri

Bukan, bukan sesak karenamu
Bukan karena periuk nasimu yang kau tumpahkan
Bukan perih keringat yang kucucurkan
Tapi jalanmu yang kau pisahkan.. dari orientasinya

Lepas kau inginkan lepaslah
Kita sama bebasnya bisa memilih bukankah?
Ingin kuingatkan saja..tak bisa semuanya untukmu saja..

Baiklah jangan tangisi apapun dan kau akan menjalaninya sebagai kesatria. Kau bisa menanggung semuanya..

Tapi berhentilah sejenak dahulu. Hei.. Lihatlah kau ada dimana? Bertanyalah.. Kau hanya tahu banyak, bukan tahu segalanya bukankah?

Jangan khawatirkan hal yang tak perlu kau khawatirkan.. Khawatirlah pada keadaanmu sendiri.. Kau merasa berlari tapi kau nyatanya tertatih..tak disadari

Ambillah waktumu
Kau melewatkan banyak hal
Tapi jangan pahami ini sebagai vonis matimu..
Kesempatan tak pernah terlewat jauh ketika kau menyadarinya
Maka kejarlah..
Kejarlah sekali lagi, saudaraku..

Dan aku bersamamu

Semua bersamamu

_______________________________
22:59 Dec 7 2011

DI MATA IBU ADA ADENYA

Ibu rumah tangga, kuliah, mengajar, dan memegang amanah pada suatu komunitas da’wah muslimah adalah empat peran yang sedang saya jalani saat ini. Sibuk?…sangat!….lelah?…iya…tapi ini jalan yang saya pilih sehingga saya harus bertanggung jawab semaksimal mungkin untuk keempat peran tersebut.
Berbicara mengenai tanggung jawab, ternyata sangat tidak mudah. Ketidakseimbangan porsi terhadap keempat peran tersebut pernah dan mungkin masih suka saya lakukan sampai saat ini. Yang paling mengerikan adalah ketika saya mengurangi porsi peran sebagai ibu rumah tangga (terutama sebagai ibu bagi kedua anak saya).  Itu pernah terjadi, ketika kegiatan kuliah dan mengajar saya mengharuskan untuk pergi jam 5 atau jam 6 pagi dan pulang sampai rumah jam 8 atau jam 9 malam. Dan itu terjadi hampir setiap hari. Bahkan tidak jarang hari sabtu dan minggu saya masih harus keluar rumah untuk kepentingan mengajar atau ada kegiatan di komunitas da’wah. Kalaupun tidak ada kegiatan keluar rumah, saya akan lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Ketika anak-anak menghampiri saya untuk bercerita atau mengajak bermain, saya hanya menjawab sekenanya dengan mata tetap fokus menatap laptop. Bahkan sering saya menolak mereka dengan kalimat “bentar ya, ibu belum selesai. Ade (atau teteh) main sama mba dulu ya…”. Feed back nya?…anak-anak saya berulah, terutama anak yang kedua (3 tahun). Dia jadi nakal, selalu melawan dan sering uring-uringan, bahkan tidak jarang dia menolak ketika saya berusaha mendekati. Padahal aslinya dia anak yang manis dan sangat penurut. Saya tahu betul itu karena ketika dia masih penuh dalam pengasuhan saya (waktu itu saya belum sesibuk sekarang), dia selalu menjadikan saya orang yang paling disukainya.
Sedih sekali saya menghadapi kenyataan tersebut. Apa yang saya takutkan selama ini terjadi. momok bahwa seorang ibu yang terlalu sibuk di luar rumah akan menyebabkan anak-anak nakal dan tidak berkualitas terus membayangi saya. Mengganggu pikiran dan konsentrasi.  Yang terpikirkan saat itu adalah, saya harus berhenti kuliah demi menyelamatkan keluarga saya…tapi…betulkah  itu jalan terbaik?…galau dalam perenungan, menangis dalam doa meminta petunjuk agar diberikan jalan yang terbaik. Kejadian ini berlangsung selama beberapa minggu. Sampai suatu saat ketika saya sedang merenung, saya me-recall semua kenangan yang pernah saya lalui bersama anak-anak saya ketika dulu saya masih jadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Ketika saya masih punya banyak waktu untuk anak-anak. Bermain, menyuapi, memandikan, menemani sebelum tidur, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan pembantu. Larut saya dalam kenangan-kenangan itu sampai saya tertegun ketika mendengar kalimat “di mata ibu ada adenya…” dalam lamunan saya. Buru-buru saya me-recall kejadian yang melatarbelakanginya…oh!…saya ingat!…kejadian lengkapnya seperti ini…
Itu terjadi beberapa tahun lalu ketika anak pertama saya masih berusia 3 tahun. Saat itu dia belum punya adik. Suatu sore hari ketika saya sedang berjalan-jalan dengannya, tiba-tiba dia bilang “ade sayang sama ibu”. Spontan saya jawab sambil tersenyum “ibu juga sayang sama ade” , lalu dia jawab lagi “beneran!”, kalimat itu reflek membuat saya tertawa, sambil membungkuk dan menatap matanya sejajar dengan mata saya, saya menjawab “ibu juga beneran”. Selama beberapa detik putri saya terdiam, lekat dia menatap mata saya, sampai kemudian dia tersenyum lebar, manampakkan gigi-gigi kecil dan putihnya, matanya berbinar. “di mata ibu ada adenya…” katanya lagi, “di mata ade juga ada ibunya” jawab saya…dia tertawa senang dan memeluk saya…indahnya…
Huftt…kenangan itu membuat air mata saya berjatuhan bagai hujan deras. Itu dia…kedekatan penuh cinta dan kehangatan…itu dia yang jarang saya lakukan sejak saya semakin sibuk dengan kegiatan kuliah. Astaghfirullahal ‘adziiiimmm…saya sudah mendzolimi hak anak saya, mengabaikan kewajiban saya. Padahal niat saya melanjutkan kuliah agar bisa mengoptimalisasi potensi saya sebagai muslimah dalam perannya sebagai istri, ibu, anak, dan komponen masyarakat, tapi kenapa malah mereduksi kewajiban yang terpenting sebagai ibu yang seharusnya menjadi kreator fundamental bagi kepribadian anak?…
Kemudian saya bicarakan hal ini kepada suami, bahwa putra kami yang kedua jadi nakal karena dia minta perhatian. Pemikiran saya ini juga ternyata dijadikan bahan koreksi bagi suami, karena dia juga merasa bahwa selama ini dia kurang waktu bagi anak-anak. kebetulan suami juga punya beberapa amanat di komunitas da’wahnya yang membuat dia juga harus sama sibuk, bahkan kadang lebih sibuk dari saya. Akhirnya kami sepakati, bahwa ketika di rumah, sesibuk apapun, kami harus meluangkan waktu untuk fokus dengan anak-anak. perubahan sikap ini kami tandai dengan sapaan sayang dan perhatian yang fokus. Setiap pulang ke rumah, selelah apapun kami akan berusaha menyapa anak-anak (kalau mereka belum tidur) dengan pertanyaan-pertanyaan ringan seperti “ade udah mamam blm?”…”teteh gimana sekolahnya tadi?”…menatap mata mereka langsung, mendengarkan mereka bercerita, tertawa bersama mereka. Begitu pula sebelum kami berangkat beraktifitas. Efeknya?…luar biasa!…hanya dalam waktu 3 hari putra kedua saya kembali menjadi lucu dan penurut seperti sebelumnya….subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaa ha illallah wallahu akbar, hal- hal kecil yang bisa berakibat besar jika dibiarkan berlarut-larut ini akhirnya bisa teratasi.
Senang sekali hati saya melihat perubahan ini. Sejak saat itu, saya dan suami sebisa mungkin berusaha meluangkan waktu bagi anak-anak, menciptakan quality time sebaik-baiknya. Menanyakan keadaan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui telepon), mungkin bagi sebagian orang langkah-langkah ini adalah suatu hal yang  biasa, tapi bagi kami hal ini adalah peningkatan dalam pencapaian.
Pengalaman ini sekaligus memberi pelajaran kepada saya akan hal penting mengenai kebaikan perkembangan anak. bahwa ternyata yang harus diwaspadi itu bukan orang tua (terutama ibu) yang sibuk di luar rumah, tetapi orang tua (terutama ibu) yang tidak bisa mengerti anaknya. Banyak anak-anak bermasalah yang berasal dari keluarga yang ibunya banyak waktu di rumah. Tidak sedikit juga anak-anak yang berhasil di bawah didikan ibu yang mempunyai jam terbang yang tinggi di luar rumah. Yang penting adalah kualitas pertemuan. Ibu-ibu rumah tangga yang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan tv menonton sinetron, gosip atau facebook-kan tanpa mau meningkatkan kualitas dirinya juga tidak akan bisa mendidik anaknya dengan baik. Ibu-ibu rumah tangga yang memilih peran ganda baik di rumah maupun di luar rumah mungkin memang akan lebih berpotensi mengabaikan tanggung jawabnya terhadap pendidikan anak-anak, tapi itu tidak akan terjadi jika sang ibu tetap konsisten terhadap kewajiban dan fitrahnya sebagai ibu…wallahu a’lam.
Saat ini usia saya 31 tahun, usia yang masih relatif muda dalam perjalanan sebagai seorang ibu. Pengalaman saya menjadi ibu juga baru tujuh tahun, masih banyak hal yang harus saya pelajari agar dapat menjadi ibu yang bisa menjadi madarasah bagi anak-anak saya. Sekarang pemahaman saya seperti ini, tidak mustahil jika suatu saat nanti akan berubah, bagaimanapun perubahan itu terjadi, saya berharap itu akan membuat saya menjadi semakin baik. Saat ini saya memegang empat tanggung jawab sekaligus, saya berharap keempat hal tersebut bisa bersinergi dengan baik, tapi jika suatu saat saya tidak lagi bisa menjalaninya secara bersamaan, saya akan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan melepaskan peran-peran lainnya. Karena ibu adalah peran utama dan paling mulia sekaligus paling sulit diantara semua peran wanita dalam hidupnya.

By : Fathimah Zuhara

Kutukan Ratu Chandani (habis)

Written by Ary Nilandari

 

Kenapa bukan melawan monster? Seperti pangeran yang meminang adiknya. Ujian itu mudah dilewati. Kenapa untuk Devika justru ujian tersulit? Terperangkap dalam boneka saja sudah berat, apalagi dilempar ke dunia modern.

“Karena kau seorang putra mahkota,” kata Ratu. “Seorang calon permaisuri harus sanggup menghadapi ujian apapun!”

Devika akan bebas dari kutukan jika pemegang boneka menebak kisah hidupnya dengan tepat.

Seandainya Devika di dunia lama, peluang bebas mungkin lebih besar. Banyak anak masih membuat mainan sendiri. Boneka cantik menjadi mainan berharga. Mereka akan memainkannya dengan senang. Mengarang aneka cerita tentangnya. Mungkin salah satu cerita itu tepat.


Tapi, di dunia modern? Harapan Narayan tipis. Pernah didengarnya, anak-anak di dunia itu kurang imajinatif. Mereka lebih suka menonton televisi, atau bermain game komputer. Bagaimana bisa menebak kisah hidup Devika? Jangan jangan, bonekanya malah tergeletak dan berdebu.

Narayan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia hanya bisa menunggu. Biarpun hidup di dunia tanpa waktu, menunggu dengan cemas tidaklah menyenangkan. Ia mengkhawatirkan keadaan Devika.

Di dunia modern, Marsha memeluk Devika. “Kau tak boleh murung, kini aku yang menemanimu. Kata Nenek, Mama dulu kelelakian. Mainannya bola dan ketapel. Hihi.. pasti bingung diberi boneka secantik kau, Devika.”

Marsha menatap Devika. “Kukira.. Hm.. Aku tahu apa yang membuatmu sedih. Kau berpisah dengan pangeran, kan? Hm.. Siapa namanya? Ia pangeran tampan dan gagah. Kunamai Narayan saja..”

Marsha tak melihat sekerlip cahaya muncul di mata Devika. Dia asyik mengarang cerita. “Devika.. Kau terperangkap dalam boneka ini karena kutukan ibunda pangeran…”

Tanpa Marsha sadari, cahaya mata Devika semakin terang. Wajahnya berubah riang. Devika terbebas dari kutukan Ratu. “Terima kasih Marsha, kini aku bisa kembali…”

-THE END-

%d blogger menyukai ini: