Category Archives: teh fatimah

DI MATA IBU ADA ADENYA

Ibu rumah tangga, kuliah, mengajar, dan memegang amanah pada suatu komunitas da’wah muslimah adalah empat peran yang sedang saya jalani saat ini. Sibuk?…sangat!….lelah?…iya…tapi ini jalan yang saya pilih sehingga saya harus bertanggung jawab semaksimal mungkin untuk keempat peran tersebut.
Berbicara mengenai tanggung jawab, ternyata sangat tidak mudah. Ketidakseimbangan porsi terhadap keempat peran tersebut pernah dan mungkin masih suka saya lakukan sampai saat ini. Yang paling mengerikan adalah ketika saya mengurangi porsi peran sebagai ibu rumah tangga (terutama sebagai ibu bagi kedua anak saya).  Itu pernah terjadi, ketika kegiatan kuliah dan mengajar saya mengharuskan untuk pergi jam 5 atau jam 6 pagi dan pulang sampai rumah jam 8 atau jam 9 malam. Dan itu terjadi hampir setiap hari. Bahkan tidak jarang hari sabtu dan minggu saya masih harus keluar rumah untuk kepentingan mengajar atau ada kegiatan di komunitas da’wah. Kalaupun tidak ada kegiatan keluar rumah, saya akan lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Ketika anak-anak menghampiri saya untuk bercerita atau mengajak bermain, saya hanya menjawab sekenanya dengan mata tetap fokus menatap laptop. Bahkan sering saya menolak mereka dengan kalimat “bentar ya, ibu belum selesai. Ade (atau teteh) main sama mba dulu ya…”. Feed back nya?…anak-anak saya berulah, terutama anak yang kedua (3 tahun). Dia jadi nakal, selalu melawan dan sering uring-uringan, bahkan tidak jarang dia menolak ketika saya berusaha mendekati. Padahal aslinya dia anak yang manis dan sangat penurut. Saya tahu betul itu karena ketika dia masih penuh dalam pengasuhan saya (waktu itu saya belum sesibuk sekarang), dia selalu menjadikan saya orang yang paling disukainya.
Sedih sekali saya menghadapi kenyataan tersebut. Apa yang saya takutkan selama ini terjadi. momok bahwa seorang ibu yang terlalu sibuk di luar rumah akan menyebabkan anak-anak nakal dan tidak berkualitas terus membayangi saya. Mengganggu pikiran dan konsentrasi.  Yang terpikirkan saat itu adalah, saya harus berhenti kuliah demi menyelamatkan keluarga saya…tapi…betulkah  itu jalan terbaik?…galau dalam perenungan, menangis dalam doa meminta petunjuk agar diberikan jalan yang terbaik. Kejadian ini berlangsung selama beberapa minggu. Sampai suatu saat ketika saya sedang merenung, saya me-recall semua kenangan yang pernah saya lalui bersama anak-anak saya ketika dulu saya masih jadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Ketika saya masih punya banyak waktu untuk anak-anak. Bermain, menyuapi, memandikan, menemani sebelum tidur, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan pembantu. Larut saya dalam kenangan-kenangan itu sampai saya tertegun ketika mendengar kalimat “di mata ibu ada adenya…” dalam lamunan saya. Buru-buru saya me-recall kejadian yang melatarbelakanginya…oh!…saya ingat!…kejadian lengkapnya seperti ini…
Itu terjadi beberapa tahun lalu ketika anak pertama saya masih berusia 3 tahun. Saat itu dia belum punya adik. Suatu sore hari ketika saya sedang berjalan-jalan dengannya, tiba-tiba dia bilang “ade sayang sama ibu”. Spontan saya jawab sambil tersenyum “ibu juga sayang sama ade” , lalu dia jawab lagi “beneran!”, kalimat itu reflek membuat saya tertawa, sambil membungkuk dan menatap matanya sejajar dengan mata saya, saya menjawab “ibu juga beneran”. Selama beberapa detik putri saya terdiam, lekat dia menatap mata saya, sampai kemudian dia tersenyum lebar, manampakkan gigi-gigi kecil dan putihnya, matanya berbinar. “di mata ibu ada adenya…” katanya lagi, “di mata ade juga ada ibunya” jawab saya…dia tertawa senang dan memeluk saya…indahnya…
Huftt…kenangan itu membuat air mata saya berjatuhan bagai hujan deras. Itu dia…kedekatan penuh cinta dan kehangatan…itu dia yang jarang saya lakukan sejak saya semakin sibuk dengan kegiatan kuliah. Astaghfirullahal ‘adziiiimmm…saya sudah mendzolimi hak anak saya, mengabaikan kewajiban saya. Padahal niat saya melanjutkan kuliah agar bisa mengoptimalisasi potensi saya sebagai muslimah dalam perannya sebagai istri, ibu, anak, dan komponen masyarakat, tapi kenapa malah mereduksi kewajiban yang terpenting sebagai ibu yang seharusnya menjadi kreator fundamental bagi kepribadian anak?…
Kemudian saya bicarakan hal ini kepada suami, bahwa putra kami yang kedua jadi nakal karena dia minta perhatian. Pemikiran saya ini juga ternyata dijadikan bahan koreksi bagi suami, karena dia juga merasa bahwa selama ini dia kurang waktu bagi anak-anak. kebetulan suami juga punya beberapa amanat di komunitas da’wahnya yang membuat dia juga harus sama sibuk, bahkan kadang lebih sibuk dari saya. Akhirnya kami sepakati, bahwa ketika di rumah, sesibuk apapun, kami harus meluangkan waktu untuk fokus dengan anak-anak. perubahan sikap ini kami tandai dengan sapaan sayang dan perhatian yang fokus. Setiap pulang ke rumah, selelah apapun kami akan berusaha menyapa anak-anak (kalau mereka belum tidur) dengan pertanyaan-pertanyaan ringan seperti “ade udah mamam blm?”…”teteh gimana sekolahnya tadi?”…menatap mata mereka langsung, mendengarkan mereka bercerita, tertawa bersama mereka. Begitu pula sebelum kami berangkat beraktifitas. Efeknya?…luar biasa!…hanya dalam waktu 3 hari putra kedua saya kembali menjadi lucu dan penurut seperti sebelumnya….subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaa ha illallah wallahu akbar, hal- hal kecil yang bisa berakibat besar jika dibiarkan berlarut-larut ini akhirnya bisa teratasi.
Senang sekali hati saya melihat perubahan ini. Sejak saat itu, saya dan suami sebisa mungkin berusaha meluangkan waktu bagi anak-anak, menciptakan quality time sebaik-baiknya. Menanyakan keadaan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui telepon), mungkin bagi sebagian orang langkah-langkah ini adalah suatu hal yang  biasa, tapi bagi kami hal ini adalah peningkatan dalam pencapaian.
Pengalaman ini sekaligus memberi pelajaran kepada saya akan hal penting mengenai kebaikan perkembangan anak. bahwa ternyata yang harus diwaspadi itu bukan orang tua (terutama ibu) yang sibuk di luar rumah, tetapi orang tua (terutama ibu) yang tidak bisa mengerti anaknya. Banyak anak-anak bermasalah yang berasal dari keluarga yang ibunya banyak waktu di rumah. Tidak sedikit juga anak-anak yang berhasil di bawah didikan ibu yang mempunyai jam terbang yang tinggi di luar rumah. Yang penting adalah kualitas pertemuan. Ibu-ibu rumah tangga yang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan tv menonton sinetron, gosip atau facebook-kan tanpa mau meningkatkan kualitas dirinya juga tidak akan bisa mendidik anaknya dengan baik. Ibu-ibu rumah tangga yang memilih peran ganda baik di rumah maupun di luar rumah mungkin memang akan lebih berpotensi mengabaikan tanggung jawabnya terhadap pendidikan anak-anak, tapi itu tidak akan terjadi jika sang ibu tetap konsisten terhadap kewajiban dan fitrahnya sebagai ibu…wallahu a’lam.
Saat ini usia saya 31 tahun, usia yang masih relatif muda dalam perjalanan sebagai seorang ibu. Pengalaman saya menjadi ibu juga baru tujuh tahun, masih banyak hal yang harus saya pelajari agar dapat menjadi ibu yang bisa menjadi madarasah bagi anak-anak saya. Sekarang pemahaman saya seperti ini, tidak mustahil jika suatu saat nanti akan berubah, bagaimanapun perubahan itu terjadi, saya berharap itu akan membuat saya menjadi semakin baik. Saat ini saya memegang empat tanggung jawab sekaligus, saya berharap keempat hal tersebut bisa bersinergi dengan baik, tapi jika suatu saat saya tidak lagi bisa menjalaninya secara bersamaan, saya akan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan melepaskan peran-peran lainnya. Karena ibu adalah peran utama dan paling mulia sekaligus paling sulit diantara semua peran wanita dalam hidupnya.

By : Fathimah Zuhara

UMMU AIMAN RA (Ibu Asuh Rasulullah Saw) bagian 1

Nama aslinya adalah Barakah. Wanita keturunan Habasyah. Budak yang diwarisi Rasulullah dari ayah beliau (Abdullah bin Abdul Muthallib). Dialah yang mengasuh Rasulullah setelah Aminah (ibunda Rasul) wafat. Dia mengasuh Rasulullah dengan segenap kasih sayang. Ia menikah dengan Ubaid bin Harits Al Khazraji, kemudian memiliki anak bernama Aiman , sehingga dia dipanggil Ummu Aiman.
Ummu Aiman termasuk orang yang pertama kali masuk islam. Sejak mendengar bahwa Muhammad membawa ajaran islam, ia tidak menunda waktu lagi untuk mengikutinya. Hanya saja langkah baiknya tidak diikuti oleh suaminya (Ubaid bin Harits Al Khajrazi), akhirnya keduanya berpisah.
Setelah berpisah dengan Ubaid, Allah memberinya suami dari kalangan muslim yang akan membimbingnya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dia adalah Zaid bin Haritsah, budak milik Khadijah pemberian dari keponakannya, Hakim bin Hizam. Setelah Khadijah menikah dengan Rasulullah, Rasulullah meminta Zaid kepada Khadijah, dan Khadijah mmberikannya. Sejak saat itu Zaid menjadi milik Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah memerdekakannya, lalu Zaid menikah dengan Ummu Aiman. Mereka dikaruniai anak bernama Usamah bin Zaid. Zaid dan Usamah sangat disayangi Rasulullah. Para sahabat biasa menyebut Usamah sebagai “kesayangan putra kesayangan”. Semua anggota keluarga ini memang punya tempat tersendiri di hati Rasulullah.
Rasulullah pernah bersabda “Zaid, kamu adalah budak yang kumerdekakan. Kamu bagian dariku dan akan bersamaku. Orang yang paling aku sayangi adalah kamu.” (h.r. Ahmad dalam 35 shiroh shahabiyah, Mahmud al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Mengenai kasih sayang Rasulullah kepada Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar ra pernah bercerita “Nabi mengirim satu pasukan dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pemimpinnya. Beberapa orang meremehkan kepemimpinannya. Maka Rasulullah SAW bersabda “jika kalian meremehkan kepemimpinannya, berarti kalian meremehkan kepemimpinan ayahnya sebelum ini. Demi Allah, dia diciptakan sebagai pemimpin. Dia adalah orang yang paling aku suka, dan anaknya ini adalah orang yang paling aku suka setelah ayahnya.” (h.r Bukhari dalam 35 Shiroh Shahabiyah, Mahmud al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Aisyah ra berkata “Rasulullah tidak mengirim Zaid bin haritsah dalam suatu pasukan kecuali beliau menjadikannya sebagai penggantinya.”(h.r Ahmad)
Salmah bin Akwa pernah bercerita “Aku berperang bersama Rasulullah dalam tujuh peperangan, dan bersama Zaid bin Haritsah dalam Sembilan peperangan. Rasulullah menjadikannya sebagai pemimpin kami.” (Thabaqat ibnu Sa’d dalam 35 shiroh Shahabiyah, Mahmud al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Ibnu umar ra pernah bercerita “Umar memberikan bagian kepada Usamah bin Zaid lebih besar dari bagianku. Maka aku menanyakannya. Umar menjawab ‘dia lebih disayangi Rasulullah daripada kamu. Ayahnya lebih disayangi Rasulullah dari pada ayahmu.” (Ibnu Hajar berkata, shahih (Al Ishabah 4/50)).

%d blogger menyukai ini: