Category Archives: teh yulan

“Mengabadikan Spontanitas”

Aslm wrwb..
Sudah lama tulisan tdk meneguhkan eksistensi, kali ini pas ada momentumnya..jadi mohon maklum adanya (bukan bermaksud meneguhkan eksistensi) (jadi apa dong?)

Apapun lah..semoga enjoy efek ke pembacanya.. Maaf sedikit curcol. That’s something I can’t keep myself.

Ini adalah nasihat sembrono seseorang kepada sodaranya. Penuh aroma kegalauan disana sini.. Dan salah satu motivasi penulisannya adalah: Mengabadikan Spontanitas

Selamat enjoy dalam kegalauan 😀

______________________________

Kepada Orang yang (diam diam) aku sayangi..
____________________________

Bicara padamu kau tak bisa dengar lagi..
Bukan kau tuli, hatimu yang menjejak terlalu tinggi..

Menulis ini bukan untuk kau pahami..
Tapi sesak itu yang memaksaku..bicara sendiri

Bukan, bukan sesak karenamu
Bukan karena periuk nasimu yang kau tumpahkan
Bukan perih keringat yang kucucurkan
Tapi jalanmu yang kau pisahkan.. dari orientasinya

Lepas kau inginkan lepaslah
Kita sama bebasnya bisa memilih bukankah?
Ingin kuingatkan saja..tak bisa semuanya untukmu saja..

Baiklah jangan tangisi apapun dan kau akan menjalaninya sebagai kesatria. Kau bisa menanggung semuanya..

Tapi berhentilah sejenak dahulu. Hei.. Lihatlah kau ada dimana? Bertanyalah.. Kau hanya tahu banyak, bukan tahu segalanya bukankah?

Jangan khawatirkan hal yang tak perlu kau khawatirkan.. Khawatirlah pada keadaanmu sendiri.. Kau merasa berlari tapi kau nyatanya tertatih..tak disadari

Ambillah waktumu
Kau melewatkan banyak hal
Tapi jangan pahami ini sebagai vonis matimu..
Kesempatan tak pernah terlewat jauh ketika kau menyadarinya
Maka kejarlah..
Kejarlah sekali lagi, saudaraku..

Dan aku bersamamu

Semua bersamamu

_______________________________
22:59 Dec 7 2011

Iklan

Kutukan Ratu Chandani (habis)

Written by Ary Nilandari

 

Kenapa bukan melawan monster? Seperti pangeran yang meminang adiknya. Ujian itu mudah dilewati. Kenapa untuk Devika justru ujian tersulit? Terperangkap dalam boneka saja sudah berat, apalagi dilempar ke dunia modern.

“Karena kau seorang putra mahkota,” kata Ratu. “Seorang calon permaisuri harus sanggup menghadapi ujian apapun!”

Devika akan bebas dari kutukan jika pemegang boneka menebak kisah hidupnya dengan tepat.

Seandainya Devika di dunia lama, peluang bebas mungkin lebih besar. Banyak anak masih membuat mainan sendiri. Boneka cantik menjadi mainan berharga. Mereka akan memainkannya dengan senang. Mengarang aneka cerita tentangnya. Mungkin salah satu cerita itu tepat.


Tapi, di dunia modern? Harapan Narayan tipis. Pernah didengarnya, anak-anak di dunia itu kurang imajinatif. Mereka lebih suka menonton televisi, atau bermain game komputer. Bagaimana bisa menebak kisah hidup Devika? Jangan jangan, bonekanya malah tergeletak dan berdebu.

Narayan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia hanya bisa menunggu. Biarpun hidup di dunia tanpa waktu, menunggu dengan cemas tidaklah menyenangkan. Ia mengkhawatirkan keadaan Devika.

Di dunia modern, Marsha memeluk Devika. “Kau tak boleh murung, kini aku yang menemanimu. Kata Nenek, Mama dulu kelelakian. Mainannya bola dan ketapel. Hihi.. pasti bingung diberi boneka secantik kau, Devika.”

Marsha menatap Devika. “Kukira.. Hm.. Aku tahu apa yang membuatmu sedih. Kau berpisah dengan pangeran, kan? Hm.. Siapa namanya? Ia pangeran tampan dan gagah. Kunamai Narayan saja..”

Marsha tak melihat sekerlip cahaya muncul di mata Devika. Dia asyik mengarang cerita. “Devika.. Kau terperangkap dalam boneka ini karena kutukan ibunda pangeran…”

Tanpa Marsha sadari, cahaya mata Devika semakin terang. Wajahnya berubah riang. Devika terbebas dari kutukan Ratu. “Terima kasih Marsha, kini aku bisa kembali…”

-THE END-

Kutukan Ratu Chandani

Kutukan Ratu Chandani

Written by Ary Nilandari

Boneka cantik itu didapatkan Mama dari Nenek. “Waktu kecil, Mama tidak suka boneka. Mama malah baru ingat setelah Nenek membawanya kemari. Kebetulan, kau suka boneka, Marsha. Dia cocok untukmu.”

“Nenek merawatnya dengan baik ya Ma..” Marsha membelai rambut bonekanya. Hitam panjang bergelombang. Tubuhnya jauh lebih besar daripada Barbie.

“Siapa namanya Ma?”
“Entahlah. Kaunamai saja sendiri.”

Marsha membawa boneka itu ke kamar dan memperkenalkannya kepada boneka-bonekanya yang lain. “Teman baru kalian ini namanya Devika.” Nama itu tersebutkan begitu saja. Ya, tampaknya cocok. Ditatapnya Devika. Marsha baru sadar, wajahnya tidak riang seperti boneka umumnya. Apa cerita dibalik wajah murung ini?

Jauh dari dunia Marsha, di sebuah negeri tanpa waktu, Pangeran Narayan sedang berduka. Devika, gadis desa yang dicintainya tak bisa ditemukan. Seluruh pelosok negeri sudah ia jelajahi.

Narayan curiga, Ratu Chandani melakukan sesuatu terhadap Devika. Menurut tradisi kerajaan, calon pasangan pangeran atau putri harus diuji dulu. Ujiannya bermacam macam. Ratu yang menentukan.

“Apakah ini ujian dari ibu?” tanya Narayan.

“Kukutuk ia masuk ke dalam boneka”

“Ibu!” Narayan menjadi marah. Itu jenis ujian terberat. “Kenapa ibu sekejam itu? Ibu kan tahu, Devika gadis yang baik.”

“Narayan, jangan ragukan tindakanku!” bentak Ratu. “Kalau dia memang baik dan cocok untukmu, dia akan keluar dengan sendirinya. Tunggu saja.”

“Dimana boneka itu?” Narayan masih gusar.

“Ibu lempar ke dunia modern.”
Oh, tidak! Narayan menjadi lemas.

(bersambung… :D)

“To create a long lasting love of reading..”

“Buku-buku ini mengembalikan peran pendidikan kepada orangtua, neng..” Ujarnya. Aku mendengarkan, sambil mengira ngira jumlah sisa tabungan. Cukupkah?..

“Semua anak pada dasarnya cerdas, tinggal kita yang menstimulasi. Salah satunya dengan cara ini. Ingat lho neng, Ibu itu madrasah pertama dan utama untuk anak2nya..”

Aku mengangguk, tersenyum sedikit. “Setelah bekerja seharian? Semoga energiku masih ada..” Kataku dalam hati.

Well, akhirnya.. Memang tak ada penyangkalan yang perlu kusampaikan; dan dari kisah tadi, izinkan saya membaginya untuk semua..

Untuk semua orang tua yang ingin mendapatkan kembali hak dan perannya, mendidik anak anak.

Selamat bercerita..

“Bercerita bukanlah untuk meninabobokan anak. Cerita adalah untuk mengisi sukma mereka..”  (Paul Jennings)

%d blogger menyukai ini: