Category Archives: Uncategorized

.: VBAC, MENUJU PERSALINAN MABRUR :.

578428_580763558600501_1487583132_n

“Kok bisa lahiran normal? Kan Hika (kakaknya) sesar, dan belum dua tahun kan?”

Ini adalah pertanyaan “wajib” pasca Alun Sagara Ilmu, anak kedua kami, terlahir tanggal 23 Februari 2013 lalu. Dia memang alumni VBAC alias Vaginal Birth After Caesarian (proses kelahiran normal setelah pada persalinan sebelumnya melalui operasi sesar) setelah kakaknya yang terpaut 20 bulan dilahirkan melalui operasi sesar karena posisi yang sungsang (kepala diatas) dan masih jauh dari jalan lahir di usia kehamilan 39 minggu plus bobot yang sudah cukup besar serta beberapa belitan tali pusar di lehernya yang konon menghambat pergerakannya untuk bisa sampai ke posisi siap dilahirkan.

Meskipun VBAC bukan istilah maupun hal yang baru, karena ternyata sudah booming sejak tahun ’80-an  namun popularitasnya berada jauh dibawah istilah operasi sesarnya itu sendiri, dan jelas masih banyak orang khususnya wanita – calon ibu yang belum familiar dengan istilah ini termasuk saya yang baru ngeuh dan menjadi tergerak untuk mendalaminya pada saat kehamilan kedua. Itupun karena awalnya saya melahirkan melalui operasi dan jika memungkinkan tidak ingin melaluinya lagi.

Alasan memilih VBAC

Orang tua kami sempat bertanya dalam kekhawatiran mereka, kenapa sih meni keukeuh ingin melahirkan normal? Kan resikonya seram. Dan memang demikian adanya. Dari sumber-sumber bacaan yang saya lahap selama masa kehamilan, selalu disebutkan bahwa resiko VBAC adalah terjadinya rupture uterus alias robekan pada uterus di lokasi bekas jahitan operasi yang tentu bisa berakibat fatal terutama bagi si ibu hingga bisa mengakibatkan kematian. Selain itu tidak mustahil usaha persalinan normal saya gagal dan ujung-ujungnya saya bisa berakhir di meja operasi lagi. Kalau hal itu terjadi maka saya “rugi” karena bukan saja akan menghadapi orang-orang yang berkata “Tuhhh kannn (;p)…” sayapun menanggung resiko komplikasi pasca operasi yang menurut tinjauan medis kemungkinannya akan meningkat dan bisa lebih parah bila dibandingkan jika saya menjalani operasi tanpa sebelumnya melewati tahapan percobaan persalinan normal.

Lantas kenapa saya tetap ingin mencoba? Padahal sebenarnya jika melihat sejarah operasi sesar saya yang sebelumnya alhamdulillah termasuk lancar jaya dan memuaskan hasilnya. Buktinya biarpun pemulihannya cukup lama dan agak lebay, namun secara fisik tidak ada trauma pasca operasi yang saya alami entah itu infeksi, pendarahan, dsb. Anastesi spinal yang saya jadikan pilihan juga memungkinkan saya untuk menyegerakan bonding fisik dengan bayi saya dan keinginan IMD pun terlaksana (meskipun bayangan-bayangan mengenai ruang operasi dan apa yang saya lalui disana terekam jelas dan menghantui saya berhari-hari dan cukup membuat saya bermimpi buruk dengan settingan ala buku “Goosebumps”-nya R.L. Stine bermalam-malam lamanya *ketahuan deh, saya ini anak tahun berapaan:p). Jahitan sayapun termasuk samar di badan dan terbukti (lewat VBAC yang saya lalui) bahwa kualitas jahitannya juga baik adanya. Orang tua saya bilang, bukannya banyak selebritis diluar sana yang rela masuk ruang operasi demi tanggal cantik di akte anaknya, atau agar penampilan selalu terjaga, lah ini yang untuk alasan keamanan kok ya malah kepengen cari “musibah”, heu<(_ _)>.

Wajar lah ya jika jadi banyak orang beranggapan bahwa jalur operasi adalah yang paling aman dan nyaman untuk melahirkan bayi ke dunia kalau pembandingnya selebritis. Apalagi ini orang tua mengkhawatirkan anaknya yang beresiko luka operasinya bisa terbuka dan bisa gawat seketika kalau salah prosedur persalinannya. Yah, baiklah saya akui saja bahwa saya memang tidak punya nyali selebritis dunia, dan itu memang salah satu alasan saya tak mau lagi didorong di meja beroda untuk menghadapi pisau yang akan menyayat kembali rahim saya *aww…linu sendiri~*_*~

Tapi alasan saya untuk mengusahakan VBAC bukan karena itu saja. Saya punya keyakinan bahwa hamil dan melahirkan yang kelak dilanjutkan dengan menyusui serta mengambil porsi terbesar dalam membesarkan sang anak adalah hal yang sudah tersistem sedemikian rupa. Pre planted, meminjam istilah suami saya, dari Allah SWT sang Pencipta bagi seorang wanita. Dan karenanya keyakinan bahwa “Karena saya hamil maka saya bisa melahirkan” bagi saya adalah bagian dari keimanan, sebagaimana layaknya saya juga meyakini bahwa jika saya tidak dikaruniai kehamilan maka saya pastilah dipercaya Allah untuk mengemban tanggung jawab dalam bentuk lainnya.

Alasan lainnya adalah untuk menghindari operasi sesarnya itu sendiri ya tentunya untuk menghindari efek negatif dari operasi itu. Meski seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa operasi saya termasuk lancar dan baik hasilnya tapi itu tidak lantas otomatis menjamin bahwa operasi berikutnya akan sama suksesnya. Resiko-resiko umum seperti infeksi, pendarahan, efek negatif dari obat bius maupun antibiotik bagi ibu dan bayi, dan tentu juga resiko kematian yang menyertai operasi tentu tetap harus diwaspadai dan diantisipasi. Belum lagi biaya operasi yang tinggi, rasa sakit pasca operasi yang tidak pulih dalam hitungan hari yang mana selain tidak nyaman juga sangat membatasi pergerakan dan menyulitkan saya untuk berkegiatan terutama untuk menyusui dan mengurus sendiri sang bayi. Lalu ada juga resiko gangguan kesehatan yang umum terjadi pada bayi yang dilahirkan melalui jalan operasi yang juga kami alami pada anak pertama kami yaitu gangguan pernafasan dan alergi. Belakangan saya juga membaca bahwa bayi yang diahirkan melalui operasi rawan dengan gangguan otak serta trauma, selain juga berpengaruh pada sistem kekebalan tubuhnya.

Namun ini tidak berarti bahwa saya menganggap keberadaan jalan operasi sebagai suatu kejumudan. Bagi saya, operasi adalah alternatif yang dapat dipertanggungjawabkan asalkan usaha maksimal supaya bisa melahirkan normal sebelumnya sudah dilaksanakan. Apalagi setelah membaca berbagai sumber yang menyebutkan bahwa VBAC bukan suatu kemusykilan dan justru malah mempunyai banyak sekali kelebihan daripada operasi sesar berulang (salah satu sumbernya ada di sini), terutama bagi saya dan suami yang tidak menolak jika Allah kelak masih mempercayakan beberapa anak lagi *hehehe, bukan keluarga lingkaran biru ini mah:p. Inilah yang justru mengantarkan saya pada alasan terakhir dan terpenting bagi saya untuk mengusahakan kelahiran normal, yakni karena saya yakin bahwa saya memenuhi keriteria sebagai kandidat untuk VBAC. Tentu saja keyakinan ini dikuatkan oleh tinjauan medis:D

Prayarat VBAC

Seperti yang saya singgung diatas, salah satu prasyarat utama seseorang boleh melakukan VBAC adalah bahwa orang tersebut memenuhi kriteria-kriteria sebagai kandidat VBAC. Apa saja kriterianya?

  • Pertama, alasan yang mendasari dilakukannya bedah sesar sebelumnya bukan dikarenakan hal yang permanen. Artinya kondisi tersebut bisa diusahakan agar tidak terjadi pada kehamilan yang selanjutnya. Dalam kasus saya, posisi bayi sungsang, bukanlah hal yang permanen. Contoh alasan permanen misalnya jika saya memiliki cacat tubuh yang membuat saya tidak memungkinkan untuk melakukan usaha persalinan normal misalnya cacat tulang pinggul.
  • Kedua, riwayat kesehatan. Kandidat VBAC tidak boleh memiliki riwayat penyakit yang memungkinkan terjadinya gangguan saat proses persalinan normal misalnya herpes atau penyakit kelamin, gangguan jantung, obesitas akut, atau diabetes. Alhamdulillah daftar tersebut bisa saya coret semua.
  • Ketiga, usia. Sebetulnya tidak ada patokan resmi berapa batas usia untuk bisa menjadi kandidat VBAC karena yang lebih utama adalah kondisi kesehatannya, jadi untuk memperoleh penilaian objektif sangat disarankan bagi calon kandidat VBAC untuk berkonsultasi dengan dokter kandungannya. Yang jelas saya (29 th kala itu) plus kondisi kesehatan yang Alhamdulillah sedang baik dinilai cukup untuk mengusahakan persalinan normal yang sehat.
  • Keempat, kandidat VBAC tidak boleh memiliki masalah dengan jahitan pada luka operasi sebelumnya (baik itu karena operasi sesar maupun jejak operasi lainnya yang posisinya di daerah perut atau organ vital lainnya). Misalnya dalam hal operasi sesar kita bisa menganalisis dari seberapa sering dan sehebat apa gangguan pada bekas luka kita rasakan dan jika memang ada maka lebih baik untuk memeriksakannya ke dokter. Dalam kasus saya, sejauh yang saya rasakan luka bekas robekan dan jahitan operasi saya tidak bermasalah dan saya juga tidak pernah mengalami rupture uterus yang konon kemunculannya ditandai dengan rasa nyeri sangat hebat di bagian luka dan air kencing berdarah. Untuk mendukung penilaian ini sebenarnya dapat dilakukan salah satunya dengan cara berkonsultasi dengan dokter yang bertanggung jawab terhadap operasi kita. Dalam hal jahitan luka operasi sesar kita dapat menanyakan apakah jahitan yang dipasangkan merupakan jahitan ganda atau jahitan tunggal, bila kita memperoleh jahitan ganda maka kemungkinannya untuk VBAC lebih aman. Posisi jahitan juga berpengaruh bagi kesuksesan VBAC, posisi yang direkomendasikan yakni berada di bagian bawah uterus dangan posisi horizontal.
  • Ketebalan dinding rahim. Lebih tebal dinding rahim seseorang maka kemungkinan sukses ber-VBAC-nya pun lebih baik karena diharapkan ia akan lebih kuat menerima tekanan dan regangan yang diakibatkan proses persalinan alami. Lagi-lagi saya pun lolos dari prasyarat yang satu ini, Alhamdulillah. Untuk mengetahui ketebalan dinding rahim, mintalah dokter Anda untuk mengukurnya pada saat usia kandungan belum terlalu besar.

Ini semua, menurut dokter Hendra Gunawan, salah seorang dokter spesialis kandungan pro VBAC yang kami temui, sudah cukup sebagai modal awal sebagai kandidat VBAC.

lebih detail mengenai prasyarat VBAC bisa dibaca di artikel berikut : http://en.wikipedia.org/wiki/Vaginal_birth_after_caesarean dan http://americanpregnancy.org/labornbirth/vbac.html ).

Prasyarat lainnya adalah dukungan tenaga medis yang mumpuni. Ini lumayan tricky nih, karena kalangan medis masih terbagi dua dalam menyikapi VBAC. Ada yang pro dan ada yang menentang sangat keras. Tapi insyaAllah seiring dengan munculnya komunitas-komunitas pengususng gentle birth kini makin mudah menemukan dukungan medis untuk melakukan VBAC, salah satu komunitas yang cukup recommended adalah komunitas Gentle Birth untuk Semua (GBUS).

Saya sendiri beruntung karena menemukan bidan Lidya Wati, tempat kami menimba ilmu dan pemahaman akan proses kehamilan dan persalinan dari sudut pandang Islam (di Sawangan – Depok), bidan Okke Efrina dan tim nya yang menggawangi persalinan saya (kini membuka praktik Bumi Ambu di Bandung) dokter Hendra Gunawan (di Hermina Pasteur Bandung) dan dokter Amilia Siddiq (di Borromeus Bandung) yang mendukung penuh rencana VBAC saya, dari mereka saya mendapat masukan-masukan yang sangat bermanfaat dalam mengusahakan persalinan normal impian saya:).

Prasyarat VBAC selanjutnya adalah saat menjalani persalinan harus diusahakan sealami mungkin. Artinya tidak boleh “dibantu” dengan induksi buatan, apalagi vacuum. Proses mengejan juga harus sealami mungkin, harus sesuai dengan ritme tubuh, tidak dibantu dengan tekanan dari luar (praktik menekan bayi lewat perut ibunya yang dulu masih dilakukan kini sebetulnya sudah dilarang tapi kadang masih ada yg melakukan). “Harus sabar, jangan di gas” begitu kata dokter Hendra Gunawan menekankan dalam salah satu sesi konsultasi kami.

Terkait dengan prasyarat terakhir, ini mengisyaratkan pentingnya menjaga kondisi ibu dan janin selama masa kehamilan hingga waktu persalinan. Tak berbeda dengan kondisi kehamilan lainnya Ibu harus mengupayakan agar asupan nutrisi ia dan janinnya terpenuhi (tapi tidak berlebihan hingga mengakibatkan obesitas baik pada ibu maupun janin) sehingga bukan hanya bayinya tumbuh sempurna di rahim sang bunda tapi juga ibunya memiliki daya tahan dan energi yang prima untuk dihamburkan saat persalinan nanti yang memang sangat menguras tenaga;p.

Selain itu usaha-usaha juga harus dioptimalkan utamanya pada usia kandungan 5 bulan ke atas untuk memposisikan bayi pada jalan lahir karena ini akan mempengaruhi kesuksesan persalinan normal. Induksi alami juga bisa dilakukan pada usia kehamilan tua atau saat berat janin sudah cukup untuk syarat kelahiran (diatas 2,5kg) sehingga dapat melancarkan usaha persalinan .

Sisanya ya tergantung pada do’a-do’a serta tentu saja kehendak sang Maha Pencipta:)

Perjuangan untuk sukses ber-VBAC dan menuju persalinan mabrur

Keberhasilan VBAC saya bukanlah keberuntungan, melainkan hasil dari do’a-do’a dan sejumlah perjuangan. Jika saya runut ulang, saya ingat bahwa perjuangan pertama saya yakni mengusahakan dukungan keluarga. Ini menjadi prioritas utama dalam birthplan saya karena saya butuh mereka untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang ramah bagi saya dan janin saya termasuk keleluasaan waktu untuk memberdayakan diri selama dalam kehamilan baik itu untuk sekedar bermeditasi dalam bentuk solat dan membaca Al-Qur’an misalnya, senam hamil, atau menyenangkan diri dan sebagainya. Saya juga pasti membutuhkan mereka saat perlu mencari alternatif dan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang sangat mungkin muncul utamanya terkait dengan kehamilan dan rencana persalinan kami. Dan bukan itu saja, saya juga ingin mereka ada disamping saya, berbagi kebahagiaan selama masa kehamilan dan saat nanti melahirkan karena hal itu adalah peristiwa yang sangat menyenangkan! Perjuangan untuk memperoleh dukungan dan kepercayaan dari mereka inilah yang mengantarkan saya pada pencarian fakta-fakta. Saya jadi rajin membaca, juga bertanya pada ahlinya. Saya beruntung karena memiliki keluarga yang sangat tinggi kepeduliannya. Mereka  tidak mau begitu saja mengiyakan rencana saya, termasuk suami saya, meskipun pada akhirnya dia adalah supporter pertama dan utama saya. Bahkan setelah saya memaparkan data-data selain tentu juga setumpuk testimoni yang menurut saya cukup terpercaya. Mereka hanya bersedia mendukung jika rencana VBAC saya memiliki jaring pengaman yang reliable. Permintaan yang tidak berlebihan, malah sangat harus mendapat perhatian. Hal ini mengantarkan kami pada perjuangan berikutnya yakni perburuan!

Yap, kami berburu. Targetnya agar mendapat dukungan dari tenaga medis professional karena sebelumnya dokter yang biasa kami datangi tidak mendukung rencana VBAC saya ini. Selain itu juga mencari tempat bersalin yang nyaman bagi saya dan bisa dijangkau dengan mudah oleh keluarga, dan  memantapkan strategi keamanan pada rencana persalinan. Alhamdulillah semuanya terakomodasi. Dengan mempertimbangkan kemudahan akses bagi kami dan keluarga, kamipun memilih agar persalinan diusahakan berlokasi di kota Bandung dan bukan di Bogor tempat dimana kami tinggal saat ini.

Syukurnya di Bandung kami berjumpa dengan praktisi-praktisi medis yang pandangannya mengenai persalinan sangat membesarkan hati. Di kota ini pula kami langsung jatuh hati pada sebuah klinik bersalin kecil namun resik dan apik sehingga memutuskan untuk mengusahakan persalinan disana. Kendalanya di klinik tersebut (saat persalinan saya) tidak ada dokter spesialis kebidanan dan fasilitas untuk menangani kondisi darurat (operasi) yang mana keduanya menjadi prasyarat yang diajukan keluarga untuk mendukung rencana persalinan saya. Untungnya sang klinik bertetangga dengan salah satu rumah sakit besar dan terpercaya dengan salah satu dokternya memiliki pandangan yang cukup moderat mengenai rencana persalinan saya termasuk saat kami menempatkannya sebagai rencana cadangan untuk kondisi siaga alih-alih menjadikannya sebagai alternatif utama, alhamdulillah. Dengan demikian maka kami bisa meyakinkan keluarga bahwa jika terjadi kondisi darurat kami bisa segera ditangani disana yang jaraknya bisa ditempuh dengan waktu sepuluh menit saja.

Mengapa kami tidak mengambil alternatif untuk melahirkan di rumah sakit adalah karena saya dan suami meyakini bahwa faktor kenyamanan adalah utama bagi usaha persalinan normal saya. Dan jelas bila dibandingkan riuh rendahnya rumah sakit berikut segala standar proseduralnya maka pemenangnya pasti jatuh pada klinik bersalin ”sederhana” yang tenang, dengan suasana rumahan, dimana saya tidak merasa menjadi pasien disana melainkan hanya seorang calon ibu yang akan melahirkan biasa. Juga dimana saya bisa memilih posisi saat nanti berjuang dalam persalinan, serta jaminan dukungan mental dan pendampingan persalinan alami namun profesional yang mana kami sudah berbagi visi mengenai prosedur dan keinginan-keinginan kami dengan sang bidan yang kami percaya.

Menyertai kedua perjuangan tadi, yang juga tak kalah penting dalam kisah sukses VBAC kami ini adalah proyek kami dalam hal pemberdayaan diri. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, modal awal sebagai kandidat VBAC saja tidak cukup, harus dibarengi dengan ikhtiar saya sendiri untuk mengusahakan hal-hal yang dapat mendukung lancarnya usaha persalinan normal dan menghindari kemungkinan perlunya tindakan-tindaan yang tidak alami.

Mengenai yang satu ini saya merasa beruntung dan mensyukuri keberadaan teknologi karena dengannya kini berbagai informasi bisa dicari. Selain mencari informasi, melalui dunia maya saya juga bergabung dalam komunitas yang beranggotakan sesama ibu hamil yang juga dikawal oleh praktisi kebidanan kawakan. Bagi saya keberadaan komunitas memberikan peranan penting dalam perjalanan kehamilan dan persalinan. Tak hanya kita dapat memperoleh informasi mengenai serba-serbi kehamilan dan persalinan tapi yang justru lebih utama dari komunitas adalah karena didalamnya mengakomodasi pertukaran visi dan menguatkan motivasi. Dan tentu saja disini saya juga memperoleh banyak teman yang merupakan sesama ibu hamil untuk berbagi.

Seluruh perjuangan kehamilan dan persalinan ini mengantarkan kehamilan saya menjadi usaha “persalinan mabrur.” Mabrur? Yap, karena gara-gara hamil ini saya jadi menemukan banyak ilmu yang bisa saya terapkan sehari-hari, bahkan saat saya sudah tidak hamil lagi. Terutama ilmu mengenai pemberdayaan diri. Ilmu ini membuat saya menyadari bahwa kehamilan, yang merupakan satu fragmen kecil saja dalam kehidupan keseluruhan, harus dikawal dengan kesadaran diri. Artinya saya harus selalu ingat bahwa apapun, sekecil apapun hal yang saya kerjakan bisa berpengaruh pada kehamilan saya.

Jika sebelum ini yang saya perhatikan terfokus pada masalah nutrisi kini saya tau dan mesti ingat bahwa posisi duduk saya, posisi tidur saya, sampai cara saya mengolah nafas dan bahkan cara saya memenej pikiran bisa berpengaruh pada kehamilan saya. Maka dari itu saya harus memilah dan memilih hanya hal-hal yang efeknya baik saja bagi kehamilan saya. Nah pada skala besar, ini sama dengan konsep bertaqwa makanya saya menamainya sebagai usaha untuk mencapai persalinan mabrur.

Proyek pemberdayaan diri saya, si ibu hamil, tidak akan berjalan lancar jika bapak hamil saya yang tercinta tidak mendukung dan ikut menjadi sumbangan daya. Dialah partner utama saya untuk berdiskusi, menyaring informasi, saling membesarkan hati setiap saat setiap hari. Dialah yang mengakomodasi mobilitas saya kesana kemari, dia juga ikut menemani dan bahkan dengan sangat proaktif bersama-sama setiap minggu bolak-balik ke kota tetangga untuk mendalami ilmu mengenai kehamilan dan persalinan pada seorang bidan yang luar biasa akomodatif dan motivatif sehingga saya tidak merasa berjuang sendiri, karena suami saya jadi kurang-lebih memahami apa yang tengah saya hadapi dan alami sehingga tingkat empatinya jadi begitu tinggi<3.

Termasuk saat masa penantian persalinan dimana kami harus terpisah jarak Bogor-Bandung, suami saya rela berbagi fikiran antara pekerjaannya dengan saya. Dia yang ikut memutar otak serta memeras keringat mengumpulkan rejeki untuk mengakomodasi rencana persalinan, Dia yang sambil menuntut namun juga ikut mencari alternatif-alternatif bagi rencana persalinan, Dia yang tak pernah lupa mengabsen checklist pemberdayaan diri saya, mulai dari asupan nutrisi hingga menemani saya senam pagi. Dan saya sangat merindukan absensinya itu kini: sudah cukupkah protein saya hari ini? Apakah karbo, gula dan garamnya sudah dikurangi, sementara sayuran dan buah-buahan dilebihi? Minum sudah berapa banyak yang terisi? Nanti jangan lupa jalan kaki. Hehe, cerewet yang menyenangkan hati. Dia juga tidak keberatan menjadi tukang pijit perineum meskipun sambil meringis-ringis karena takut mengakibatkan ngilu pada saya nanti (dan Alhamdulillah pijatan-pijatan linu itu, bersama dengan usaha kami yang merutinkan berenang setiap minggu, dan kegel yang membuat pegal, mengantarkan saya berhasil melahirkan tanpa luka berarti pada bagian perineum hingga tidak memerlukan jahitan) dan sebagainya.

Final dari semua perjuangan kami itu adalah proses persalinan penuh cinta di sebuah kamar bernuansa biru sewarna nama bayi di kandungan saya – “Sagara” yang berarti samudera. Pada usia kehamilan 38 minggu, dua minggu lebih awal dari due date nya. Didampingi sepenuhnya oleh suami serta tiga bidan yang selalu siaga.

Persalinan yang lancar dan alami, diawali dengan rembesan air ketuban dan bercakan darah di subuh hari, bukaan pertama. Sayapun tidur miring kiri untuk mencegah air ketuban rembes lebih banyak lagi. Tenggat saya 6 jam untuk menanti bukaan tergenapi, jika tak terjadi maka saya ikhlash dengan operasi. Tepat setengah jam sebelum tenggat terlewati jalan lahir terbuka dengan pasti, Alhamdulillah tak sia-sia perjuangan saya setiap hari jalan kaki, dan menggiatkan berbagai cara induksi alami.

Bohong jika saya mengatakan bahwa prosesnya melewatkan rasa sakit (meskipun sebagian ibu melahirkan nampaknya memang berhasil melewatkannya, subhanallah). Sakit tentu saja. Tapi sakit ini bukan semacam sakit hati yang membingungkan dan tidak mudah diatasi. Ini adalah sakit yang bisa dipahami dan dengan segera dilalui.

Saya pribadi menemukan bahwa saat saya paham mengenai apa yang sedang dan akan saya hadapi sangat membantu saya dalam proses luar biasa ini. Itulah yang menjadikan belajar menjadi penting untuk para ibu hamil. Memahami bahwa rasa tak nyaman dan kesakitan pada saat kontraksi datang adalah prasyarat yang diperlukan bagi proses kelahiran, bahwa arti dari setiap mulas yang datang adalah bahwa tubuh saya tengah mengakomodasi sang bayi untuk lahir ke dunia ini, dan memahami bahwa yang saya harus lakukan hanya bantuan berupa mengejan dan mensuplai oksigen serta tenaga melaui pernafasan dan kepercayaan diri, maka sayapun bisa melakukannya dengan senang hati. Tak peduli berapa kali atau berapa waktu yang harus kami lalui.

Dan di tarikan nafas terakhir, saat kepala mungil itu meluncur diikuti sempurna tubuhnya, maka tak ada yang tersisa selain bahagia, rasa syukur yang tak hingga, dan saya yakin bahwa semesta pun ikut tertawa, lega:’).

Memuaskan. Hanya kata itu yang dapat mewakili apa yang saya rasakan. Kebersamaan, azan dan iqomat yang dikumandankan, persentuhan dua badan, pendampingan hingga ari-ari oleh sang ayah diputuskan, semuanya adalah I’tikaf kenikmatan yang selamanya tak mungkin terlupakan. Tersimpan rapi dalam memori, dan akan selalu saya putar ulang kembali saat mendampinginya dewasa nanti. Dan impian serta semangat kami untuk menjadi manusia mabrur melalui proses kehamilan dan persalinan ini selalu memotivasi setiap langkah kami. insyaAllah. ❤

421454_574510409225816_2054969214_n

540856_575258935817630_219933777_n

Iklan

Mamang, Ibi, this is Alun’s Leap to Aldulthood!

Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai wajib atau sunnahnya, kita yang muslim sepakat bahwa berkhitan yang sudah dilaksanakan sejak jaman nabi Ibrahim as ini merupakan hal yang dianjurkan.
Kita bisa merujuk pada hadits Nabi berikut ini:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ، اَلْخِتَانُ وَ اْلاِسْتِحْدَادُ وَ نَتْفُ اْلاِبْطِ وَ قَصُّ الشَّارِبِ وَ تَقْلِيْمُ اْلاَظْفَارِ. البخارى 7: 143
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, :Fithrah itu ada lima : 1. Khitan, 2. Mencukur rambut kemaluan, 3. Mencabut bulu ketiak, 4. Memotong kumis, dan 5. Memotong kuku”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 143]

Dan ternyata pandangan medis modern juga mendukung pentingnya melakukan khitan karena terbukti banyak manfaatnya bagi kesehatan.

Makanya sejak mengetahui kalau anak kedua kami adalah laki-laki masalah berkhitan ini sudah langsung kami masukkan dalam agenda hak anak yang harus kami tunaikan along dengan memenuhi segala kebutuhan dasarnya, melaksanakan aqiqah, memberikan pendidikan yang baik, dan kelak menikahkan *Ya Allah, meni asa geus kolot 😂

Itu, dan khusus dalam kasus Alun mah berkhitan juga adalah bagian dari persiapan kami menuju keberangkatan ke Berlin dalam rangka menemani Ama yang sedang tholabul ‘ilmi *ciyeciyeee🙆.

Kami merasa ini penting karena belajar dari kasus beberapa ponakan dan sepupu yang “terpaksa”  harus dikhitan akibat alasan medis (rata-rata karena fimosis) yang munculnya “tiba-tiba” maka kami memilih mengkhitan Alun saat sedang sehat dan saat masih di Indonesia *soalnya memikirkan kemungkinan mengkhitan Alun di Jerman saja – apalagi kalau gara-terpaksa- sudah bikin saya kleyengan😫😷😵

Akhirnya meskipun saya dan siAma jadi agak lebay merasa bersalah karena mengkhitan Alun tanpa mendiskusikannya terlebih dulu sama yang bersangkutan sementara dianya sedang menikmati perkembangan kemampuan motorik kasarnya, dan meskipun kami bisa dianggap melakukan pelanggaran hak asasi manusia, kami mantap memutuskan untuk mengkhitan Alun pada tanggal 7 September 2014 lalu🙏.

Pada akhirnya kami bersyukur untuk keputusan tersebut karena ternyata oh ternyata … saat kontrol di hari ke empat pasca khitan sesuai anjuran dokternya, sang dokter menginformasikan kalau Alun ternyata memiliki fimosis meskipun masih ringan 😮
Dokter mengira alasan kami mengkhitan Alun karena hal itu, padahal kami syok saat diberi tahu, heuheu. Maklum sebelumnya memang kami tidak konsultasi dulu dengan dokter karena selama ini Alun tidak menunjukkan gejala gangguan buang air😯, dan kami juga baru tau kalau fimosis bisa diidentifikasi dari bentuk penis anak. Kalau kulupnya meruncing, nah itu kemungkinan besar sang anak mengidap fimosis😛.

Tapi yah, hikmahnya Alun sekarang terbebas dari fimosisnya.
Jadi bagi orang tua yang memiliki anak laki-laki, bagus juga kalau sesekali konsultasi dengan dokter untuk melihat adanya kemungkinan anak memiliki kelainan fisiologis yang berpotensi masalah di kemudian hari semacam fimosis ini.

Kapan sih waktu yang tepat untuk berkhitan?
Sebenarnya umur 19 bulan seperti Alun saat ini terhitung usia tanggung untuk berkhitan karena si anak sedang dalam masa super duper aktif, bahkan disaat tidur 😅*da Alun mah motah pisan tidurnya
plus anak umur batita begitu agak susah diberi reasoning, tidak bisa disuruh duduk diam atau berbaring untuk menghindari gesekan pada luka khitannya. Apalagi saat obat peredam sakitnya sedang beraksi, mana dia peduli dengan perintah duduk atau berbaring manis … lihat kakaknya lari-lari ya langsung dong dia bergabung sambil haha hihi … tinggallah orang tuanya yang meringis-ringis ngeri :'(.

Belum lagi kendala komunikasi, batita seperti Alun belum bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan dengan kata-kata makanya kami yang mendampinginya kadang dibuat bingung untuk memberi respon yang tepat terutama dalam menyikapi tangisan dan kerewelan Alun pasca dikhitan. Kalau dia menangis kami cuma bisa mengira-ngira alasannya dan yang jadi tertuduh pasti si luka bekas khitannya itu, hihi, padahal mungkin dia menangis karena hal lain 😅. Untunglah Alun termasuk jarang menangis dan tidak terlalu rewel.

Jadi pilihan usia khitan yang enak  adalah waktu bayi (usia 1mgg-3bln) karena bayi belum banyak bergerak sehingga perawatan luka lebih mudah dan cenderung lebih cepat sembuh. Meskipun ya beberapa kalangan menentangnya dengan alasan dapat mengakibatkan efek traumatik pada bayi. Atau tunggu anak sampai bisa diajak berkomunikasi dan diberi pengertian, mungkin saat usia anak 4 tahun atau lebih.

Nah, kalaupun pada akhirnya orang tua memutuskan untuk mengkhitan anaknya pada usia batita mungkin pengalaman kami kemarin bisa menginspirasi😄

Persiapan
Apa sih yang kami persiapkan saat mau mengkhitan Alun kemarin?

Yang pertama tentunya harus menentukan waktu, metode dan tempat khitanan. Terkait dengan hal ini dianjurkan bagi orang tua untuk sekaligus berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah ada hal-hal khusus yang harus diperhatikan terkait kondisi anak (kesehatan, fisiologis, mental), faktor usia, dsb.

Pilihan kami kemarin jatuh ke metode konvensional yang konon paling aman untuk bayi dan balita. Dan diputuskan untuk mempercayakan prosesnya pada para ahli di Klinik Khitan Seno Medika Bandung. Selain karena testimoni orang-orang yang selalu positif, di klinik ini beda dengan klinik lainnya ialah luka sunat tidak diverban, menurut saya ini lebih nyaman bagi anak karena tidak perlu buka tutup verban. Prosesi buka verban itu kan lumayan traumatik lho, coba saja tanyakan pada yang pernah mengalaminya jika tidak percaya😨.

Kliniknya juga nyaman, saya pernah kesana sebelumnya (karena ikut pelatihan  yang berlokasi disana) dan jadi tahu kalau tempatnya memang nyaman, terutama untuk para pengantar yang membawa anak kecil. Kalau untuk calon terkhitan sih saya tidak tahu karena belum pernah masuk ruangan khitannya. Tapi profesionalitas dan kredibilitas tim dokternya terkenal baik.

Tempat parkir lumayan luas, dan ada mushalla yang nyaman. Ini penting sekali bagi para pengantar karena khitan disini dilangsungkan dari jam 5 subuh, dan semua pasien harus datang minimal setengah jam sebelumnya untuk mengambil nomor antrean. Pemilihan waktu di subuh hari ini dikarenakan anak belum terlalu banyak beraktifitas sehingga aliran darahnya tidak terlalu kuat.

Berikutnya persiapan keuangan. Biaya khitan berbeda-beda tergantung penyelenggara. Di seno medika biaya khitan untuk anak dibawah 4 tahun adalah 1jt 105rb rupiah karena termasuk pelayanan VIP.  Selain faktor tingkat kesulitan, yang membedakan pelayanan VIP dg reguler adalah penggunaan obat bius. Obat yang digunakan pada layanan reguler efek biusnya hanya bertahan selama 4jam, sedangkan yang VIP ini sampai 7jam. Cocok bagi kami yang langsung membawa Alun ke Sumedang:)

Selain itu di ruangan VIP yang terletak di lantai dua klinik juga lebih nyaman, kursi tunggunya terdiri atas beberapa sofa empuk dan kursi-kursi yang mengelilingi meja bundar berlapis kain putih dengan dihias pita hijau ala di tempat kondangan:), selain itu bagi pengantar disediakan juga suguhan teh dan kopi panas serta beberapa jenis makanan ringan. *Tapi saya mah boro-boro makan da tegang 😅.

Persiapan lainnya apa ya?hmmm kami juga mempersenjatai diri dengan barang-barang yang bisa menghibur Alun: mainan, makanan dan minuman pavoritnya. Just in case dia cranky di jalan, meskipun ternyata dia tidur di sepanjang perjalanan pulang, hehe. Alhamdulillah 😇.

Oh ya, untuk bayi atau batita yang masih belum bisa buang air sendiri siapkan juga beberapa celana untuk dikorbankan, di gunting (dilubangi) bagian penisnya. Tujuannya agar ketika buang air, air seni nya tidak terlalu banyak mengenai luka karena luka yang sering terkena air lebih sulit untuk sembuh dan bisa jadi harus mendapatkan treatment khusus. Pada hari H sunat anak dipakaikan celana longgar tanpa resleting atau sarung (sarung instan lebih enak) karena nanti akan dipakaikan sabuk berpenyangga.

Terakhir, diluar itu semua yang sangat perlu dipersiapkan adalah mental kita, orang tuanya.
Terus terang meskipun rencana ini sudah diwacanakan jauh-jauh hari, tetap saja rasanya kami tidak benar-benar siap, terutama secara mental. Malam sebelum hari H nya aja Saya masih bertanya pada Ama apa kita batalkan saja ya rencana khitannya? Mudah-mudahan Alun tidak fimosis sampai kita pulang dr Jerman…heuheu, untung lah Ama berpendirian kuat dan berlogika sehat jadi tidak ikut panik dan rencana khitan Alun bisa tetap terlaksana😁. Walau demikian tetap saja kami berdua tidak bisa tidur tenang, gelisah dan deg-degan semalaman. Walhasil Alun ikutan resah juga tidurnya, hati orang tua memang terkoneksi sinyal HSDPA dengan anaknya😆.

Jadi untuk para ortu yang berencana mengkhitan anaknya, persiapkan mental Anda. Minta dukungan dari orang-orang terdekat supaya ikut membesarkan hati kita. Mendengarkan dan membaca cerita-cerita sukses khitanan orang-orang juga lumayan membantu memberikan gambaran akan apa yang bakal dihadapi nantinya.

Tak usah panik, apalagi sampai menangis-nangis bombay segala. Percayalah pada ahlinya, insyaAllah anak akan baik-baik saja saat disunat. Hilangkan pikiran buruk yang membayangkan bagaimana kalau-kalau dokternya mengantuk dan jadi salah mengiris, atau anaknya meronta-ronta dan kabur sambil berdarah-darah dari kasur tindakan sebelum sunatnya beres *iya saya kepikiran itu semua sampe sesak nafassss…hwaaaaa😥

Post treatment & side effects
Kata seorang tetangga saya yang bijak, “Setelah dijalani mah ngga serumit yang dibayangkan“ ternyata benar😁.

Alhamdulillah ternyata kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat saya tidak bisa tidur dan jadi lebay itu tidak terjadi dan segalanya berjalan baik-baik saja. Ternyata kebijakan pihak klinik untuk tidak mengijinkan pengantar ikut mendampingi proses khitan malah melegakan, soalnya seandainya saya ikut mendampingi (sangat) bisa jadi malah mengganggu kelancaran dokter beraksi, hehe.

Kekhawatiran saya kalau Alun rewel dan membuat senewen orang serumah juga alhamdulillah tidak terjadi, Alun cuma menangis saat lukanya ditetesi obat, selain itu dia okidoki saja.  Bahkan saat obat bius habis efeknya pun dia baik-baik saja.

Saat pertama kali buang air kecil Alun sempat menangis tapi kali selanjutnya sudah biasa saja, malah sekarang dia punya kebiasaan baru berseru-seru bahagia “pipiiisss pipiiss” sambil memainkan air seninya dengan kakinya😑*dasar bocah…

Ah ya, satu hal yang perlu diperhatikan adalah cara membersihkan kencing, karena kencing termasuk najis yang tidak boleh dibawa saat sholat. Untuk detail caranya bisa dipelajari disini.

Secara umum efek samping dari khitan untuk Alun hanya peningkatan demand ASI yang sangat tinggi malah kadang sampai menolak makan dan memilih ASI sampai tertidur *serasa kembali ke jaman bayi 😪

Efek lainnya, sekarang saya jadi tau bahwa Alun kalau malam sudah tidak kencing sama sekali, pas subuh saja baru deh car-cir-cur 😂.
Kekhawatiran kalau malam dia gelutukan kesana kemari seperti biasanya juga ternyata tidak terjadi, entah bagaimana dia tidurnya anteng sekali, telentang tanpa berubah arah 😶padahal sehari-hari  kasur ukuran raja habis dia putari semua :?. Padahal lagi saya dan Ama sudah bersiaga piket untuk menjaga agar posisi tidur Alun tidak membahayakan lukanya😤.

Penyembuhan
Jangan berharap kesembuhan instan (note to myself). Segala sesuatu ada prosesnya, mari kita nikmati bersama😇. Awalnya kami *saya ding memang sempat ngeyel mencari alternatif khitan berdasarkan kecepatan penyembuhan, berharap ada yang begitu selesai khitan lukanya langsung kering dan bisa dipakaikan diaper lagi. Hehe. Tapi yah secanggih apapun teknologi khitan saat ini tentu saja belum ada yang demikian, jadi lebih baik berpedoman pada keamanan saja. Yang penting kita mau mendampinginya dengan sabar dan telaten ;).

Alun sendiri lukanya baru mengering di hari ke tiga, itupun belum sempurna. Tapi dia sudah bisa tidur miring dan nampaknya tidak sakit saat terbentur-bentur ringan tanpa dibantu obat penghilang sakit. Meskipun begitu sejak hari pertama pun aktifitasnya tidak terlalu terganggu, dan dia tetap ceria seperti biasanya:).

Ya, demikianlah sekelumit cerita khitanan si anak batita 😁. Lagi-lagi sebuah proses yang penuh nilai pembelajaran bagi kami orang tuanya. Sekali lagi, alhamdulillah 😇.

image

Sesaat sebelum disunat, ternyata sempat diabadikan😙

image

Ruang tunggu VIP Klinik Seno Medika

image

Celana-celana yang turut berkorban

image

Si batita sunat yang ceria

Lihat dokumentasi lengkapnya di https://m.facebook.com/ahmariama/albums/851599948183526/
*warning, cute version ahead! 😉

Bonus, 7 hal unik tentang khitan *ala on the spot😆:
1. Sejarah khitan dijelaskan dalam hadits berikut :
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اخْتَتَنَ اِبْرَاهِيْمُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ هُوَ ابْنُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً بِالْقَدُوْمِ. مسلم 4: 1839
Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda, “Nabi Ibrahim ‘AS berkhitan saat beliau berusia delapan puluh tahun dengan menggunakan kampak”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1839]
2. Dalam hadits tersebut kata بِالْقَدُوْمِ jika dibaca bilqoduum, artinya “dengan kampak”, tetapi jika dibaca bilqodduum, artinya “di kota Qoddum”, di daerah Syam *membaca keterangan ini saya langsung berharap jika artinya nama daerah, soalnya ngeri gitu kalau membayangkan sunatan menggunakan kampak😱
3. Bukti ilmiah yang menunjukkan sejarah khitan tertua ada di Mesir yakni ditemukannya relief yang diyakini berasal dari tahun 2. 400 SM di pemakaman kuno Saqqara yang menggambarkan prosesi khitan.
4. Ahli bedah di Bellevue Hospital Medical Collage pernah menggunakan metode khitan untuk menyembuhkan suatu kasus kelumpuhan pada seorang anak laki-laki berusia 5 tahun.
5. Praktik khitan pada wanita di negara-negara Afrika pada prosesnya melukai bahkan di beberapa daerah memutilasi bagian klitoris wanita, tak heran jika hingga kini khitan pada wanita memunculkan kontroversi.
6. Di Indonesia terdapat banyak tradisi yang mengikuti prosesi sunatan, dari mulai arak-arakan macam kuda renggong di Sumedang- Jawa Barat, tradisi meneteskan darah ayam di kepala anak calon sunat di Banyuwangi, sampai yang membuat saya senewen yaitu tradisi sifon di NTT yang saking senewennya membuat saya ogah untuk menuliskannya disini 😬 mangga we baca sendiri ah.
7. Nelson Mandela menuliskan pengalaman sunatnya di dalam otobiografinya.

Hoax atau fakta? Silakan cari sendiri kebenarannya, da Inimah hanya bonus semata ;)😄.

Salam Hangat.
Mbunya Alun si batita sunat.

UMMU AIMAN RA (Ibu Asuh Rasulullah Saw) bagian 3/habis

Rasulullah senang dengan sesuatu yang membuat Ummu Aiman senang. Aisyah ra pernah bercerita “seorang ahli silsilah keturunan datang ke rumah kami. Saat itu Rasul ada di rumah, sedangkan Usamah bin Zaid dan Zaid bin Haritsah tidur-tiduran. Lalu orang itu berkata ‘kaki-kaki ini sama dan ada keterikatan’. Mendengar hal itu Nabi sangat senang dan mengungkapkan kekagumannya kepada orang tersebut. Lalu beliau memberitahukan hal itu kepada Aisyah ra”. (h.r. bukhari)
Imam Nawawi berkata “Imam Qadhi menyebutkan bahwa Al Mazi berkata ‘Sebelum itu orang-orang mencela nasab Usamah karena kulitnya sangat hitam, sedangkan Zaid (ayahnya) berkulit putih. Tapi setelah ahli silsilah keturunan itu menyebutkan bahwa Usamah adalah anak Zaid meskipun warna kulit mereka berbeda, Nabi sangat senang karena tidak ada peluang lagi bagi orang-orang untuk meragukan Usamah. Orang-orang Arab saat itu sangat percaya kepada ahli silsilah keturunan.” (Syarhin Nawawi dlm 35 Shiroh Shahabiyah, Mahmud Al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Ummu Aiman senang dengan semua yang menyenangkan hati Rasulullah. Dia juga sedih ketika melihat beliau sedih. Melihat Rasul sangat bahagia atas pernikahan Ali dengan Fathimah, Ummu Aiman juga turut bahagia. Ia bersama Asma binti Umais mempersiapkan semua yang dibutuhkan Fathimah untuk pernikahan.
Saat meninggalnya Zainab putri Rasulullah, Ummu Aiman turut memandikan jenazahnya dengan hati penuh kesedihan. Pada kesempatan lain, Ummu Aiman berdiri membela Aisyah ra ketika beliau diterpa fitnah dalam peristiwa “haditsul ifki”. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan Ummu Aiman punya posisi tersendiri di hati Rasulullah, para Ummul mukminin dan para sahabat nabi.
Ummu Aiman tetap dihormati oleh para sahabat. Setelah Rasulullah wafat, para sahabat sering mengunjunginya.Anas menceritakan bahwa selang beberapa waktu setelah wafatnya Rasulullah, Abu Bakar ra berkata kepada Umar “Mari kita mengunjungi Ummu Aiman, sebagaimana dulu Rasulullah mengunjunginya”. Ketika sampai di rumah Ummu Aiman mereka melihat Ummu Aiman menangis. Mereka bertanya “Apa yang membuat bunda menangis? Apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah” Ummu Aiman menjawab “Aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah, akan tetapi aku menangis karena sekarang tidak ada wahyu lagi.” Jawaban itu membuat keduanya turut menangis. Mereka pun larut dalam tangis.” (h.r. Muslim)
Riwayat Ibnu Sa’d (sanadnya shahih) menyebutkan bahwa Anas berkata “Ummu Aiman menangis saat wafatnya Rasulullah. Ketika ada yang bertanya padanya ‘Bunda menangis?’ ia menjawab ‘Demi Allah, aku sudah tahu kalau dia akan wafat. Tapi aku menangis karena dengan wafatnya Rasulullah berarti wahyu sudah tidak ada lagi’”
Ummu Aiman diberi umur panjang. Ia mengikuti masa pemerintahan Abu Bakar ra, Umar ra, hingga Utsman ra. Ketika Umar terbunuh, Ummu Aiman menangis dan berkata “Hari ini islam mulai lemah” (h.r. Ibnu Sa’d). Pada masa pemerintahan Utsman, Allah memanggil Ummu Aiman untuk berkumpul dengan orang yang sangat dicintainya (Rasulullah SAW) di syurga, yang nikmatnya tiada terkira.
Ummu Aiman, wanita luar biasa yang telah mengambil posisi dalam memperkuat pondasi Islam di zaman Rasulullah, telah membuktikan bahwa kemuliaan seseorang hanya terletak pada takwanya, bukan pada status sosial atau hal-hal duniawi lainnya. Kualitas dirinya sebagai muslimah terpancar dari kemampuannya mengasuh Rasulullah sejak kecil dan mendidik kedua anaknya (Aiman dan Usamah bin Zaid) menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa. Keberanian, keteguhan, ketangguhan dan kasih sayang yang terangkum dalam pribadinya menorehkan tinta emas dalam sejarah perjalanan Islam hingga meraih kejayaan.
Ummu Aiman, adalah potret indah seorang muslimah sejati yang bisa menjadi mercusuar di zaman ini, dimana nilai eksistensi wanita sesungguhnya seringkali bias oleh issue emansipasi, kecantikan dan kemolekan tubuh serta budaya hidup glamour dan konsumtif yang seolah telah menjadi tujuan hidup bagi sebagian besar wanita saat ini, sehingga seringkali para wanita lupa, bahwa kekuatan sesungguhnya yang Allah sisipkan dalam penciptaan dirinya adalah kemampuannya untuk menjadi madrasatul ula bagi anak2nya, dan menjadi sebaik-baik perhiasan di dunia ini.
Tapi insya Allah, penulis yakin, saat ini, diantara sekian banyak wanita yang terhipnotis oleh fitnah duniawi, masih ada pribadi-pribadi seperti Ummu Aiman yang istiqomah dengan fitrah sucinya, cerdas dengan dedikasinya, dan teguh dengan keyakinannya kepada Allah swt. Pribadi-pribadi seperti inilah yang akan melahirkan generasi Rabbani yang siap memikul amanah sebagai Khalifah di muka bumi…dan semoga, Allah swt menganugerahkan pribadi seperti itu kepada kita…amiin allahumma amiin…

By : Fathimah Zuhara

UMMU AIMAN RA (Ibu Asuh Rasulullah Saw) bagian 2

………Ibnu umar ra pernah bercerita “Umar memberikan bagian kepada Usamah bin Zaid lebih besar dari bagianku. Maka aku menanyakannya. Umar menjawab ‘dia lebih disayangi Rasulullah daripada kamu. Ayahnya lebih disayangi Rasulullah dari pada ayahmu.” (Ibnu Hajar berkata, shahih (Al Ishabah 4/50).
Bahkan Rasulullah saw pernah berkata “Aku masuk syurga dan disambut oleh seorang remaja putri. Aku bertanya ‘kamu milik siapa?’ dia menjawab ‘milik Zaid bin Haritsah”(h.r Ruyani dan Dhiya dari Buraidhah).
Ketika penderitaan dan siksaan yang dialami kaum muslimin semakin berat, Rasulullah mengizinkan mereka untuk berhijrah ke Madinah. Maka kaum muslimin berhijrah ke Madinah untuk menyelamatkan aqidah mereka dari kekejaman kaum kafir Quraisy. Ummu Aiman termasuk dalam rombongan hijrah itu. Di perjalanan ada kejadian luar biasa yang dialami Ummu Aiman. Ustman bin Qasim menceritakan “Ummu Aiman ikut dalam rombongan kaum muslimin yang hijrah ke Madinah. Sore hari, ketika kami sampai di daerah Mansharif (sebelum Rauha), Ummu Aiman yang saat itu sedang puasa merasa sangat lelah dan haus. Tiba-tiba ada ember berisi air terikat tali putih menjulur dari langit. Lalu Ummu Aiman meminumnya. Setelah kejadian itu ia berkata “Setelah kejadian itu aku tidak pernah merasakan haus meskipun ketika berpuasa”. (h.r Ibnu Sa’d dalam 35 Shiroh Shahabiyah, Mahmud Al Mishry, Al I’tishom, 2009)
Ummu Aiman di perang Uhud
Ummu Aiman bersama beberapa kaum wanita bertugas sebagai tim kesehatan dan penyiapan makanan dalam perang Uhud. Di perang Uhud inilah dia menorehkan tinta emas dalam sejarah.
Ketika pasukan panah tidak mengindahkan intruksi Rasulullah, sehingga pasukan musuh berhasil membunuh sejumlah pasukan muslim, dan sebagian pasukan muslim lainnya mundur lari ketakutan, Ummu Aiman menghadang mereka dan melemparkan pasir ke muka mereka seraya berkata “ini bedak yang pantas kalian terima. Ambil pedang kalian” (Dalailun Nubuwwah, Baihaqi). Lalu bersama rekan-rekan wanitanya Ummu Aiman mencari berita tentang Rasulullah, mengetahui beliau selamat, ia merasa tenang.
Ummu Aiman di perang Khaibar
Ummu Aiman ikut dalam perang Khaibar. Ia tidak mau ketinggalan dalam peristiwa ini sebagai tahapan penting dalam penegakan agama Allah. Namun anaknya (Aiman) tidak ikut dalam perang Khaibar karena kudanya sakit. Ummu Aiman tidak mengetahui keadaan ini sehingga dia mengira Aiman tidak ikut berperang karena takut, maka ia memarahi Aiman dan mengatakannya sebagai penakut.
Di perang Mu’tah,Ummu Aiman mengalami cobaan yang sangat berat. Zaid bin Haritsah, suaminya terbunuh sebagai syahid. Saat itu Rasulullah mengirim pasukan dan mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglimanya. Anas ra berkata “Nabi telah mengabarkan kematian Zaid, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah kepada kaum muslimin, sebelum ketiganya mengetahui berita itu. Beliau bersabda ‘Zaid memegang bendera lalu dia gugur, kemudian dipegang oleh Ja’far lalu dia gugur, kemudian dipegang oleh Abdullah bin Rawahah lalu dia gugur (saat itu mata beliau meneteskan air mata), kemudian bendera dipegang oleh satu dari Pedang Allah hingga Allah memberi kemenangan untuk kaum muslimin” (h.r. Bukhari)

Ummu Aiman di perang Hunain
Tiba saatnya kaum muslimin berhadapan dengan kafir di perang Hunain. Seperti biasanya, Ummu Aiman tidak mau ketinggalan. Ia ikut dalam pasukan islam untuk memperjuangkan agama tuhannya, walaupun hanya dalam bentuk menyiapkan minum bagi para mujahid.
Dua putranya, Usamah bin Zaid dan Aiman juga ikut dalam pasukan. Di perang ini, pasukan muslim sempat terdesak. Banyak tentara muslim yang mundur. Namun Aiman dan beberapa tentara Islam tetap tegar dibarisan perang bersama Rasulullah hingga ia dijadikan symbol keberanian di perang Hunain, hingga akhirnya Aiman gugur sebagai syahid.
Kedudukan Ummu Aiman di hati Rasulullah
Posisi Ummu Aiman di hati Rasulullah tidak tergeser. Rasulullah tidak pernah lupa bahwa Ummu Aiman adalah ibu kedua beliau yang rela berkorban apa saja demi keselamatan beliau. Dan ibu keduanya itu telah mencurahkan semua kasih sayangnya kepada beliau.
Anas berkata”Rasulullah berkunjung ke tempat ummu Aiman. Aku menemani beliau. Ummu Aiman menyuguhi beliau minum. Tapi nabi menolak. Aku tidak tahu apakah beliau sedang berpuasa atau tidak mengingnkan minuman itu. Maka Ummu Aiman marah dan memaki nabi. (h.r. Muslim).
Imam nawawi berkata “dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda ‘Ummu Aiman adalah ibu keduaku’” (Muslim bi Syarhin Nawawi, dalam 35 qishoh Shahabiyah, Mahmud al Mishry, Al I’tishom, 2009).
Nabi juga memberikan apa yang diinginkan oleh Ummu Aiman, karena beliau sangat sayang kepadanya.
Anas bin Malik berkata “orang-orang muhajirin tiba di Madinah tanpa membawa apapun. Sementara itu, orang-orang Anshar adalah tuan tanah dan rumah. Maka separuh dari hasil bumi mereka diberikan kepada orang-orang Muhajirin setiap tahun. Kebutuhan sehari-hari orang-orang Muhajirin juga mereka cukupi. Saat itu, ibu Anas bin Malik yang biasa dipanggil Ummu Sulaim memberikan pohon kurmanya kepada Rasulullah, lalu Rasulullah memberikannya kepada Ummu Aiman.”
Ibnu Syihab berkata “Anas memberitahuku bahwa setibanya di Madinah, sepulang dari perang Khaibar, orang-orang Muhajirin mengembalikan pemberian orang-orang anshar yang selama ini mereka panen hasilnya. Rasulullah mengembalikan pohon kurma pemberian ibuku dan memberikan kebunnya kepada Ummu Aiman” (h.r. Muslim).

%d blogger menyukai ini: