Arsip Blog

.: VBAC, MENUJU PERSALINAN MABRUR :.

578428_580763558600501_1487583132_n

“Kok bisa lahiran normal? Kan Hika (kakaknya) sesar, dan belum dua tahun kan?”

Ini adalah pertanyaan “wajib” pasca Alun Sagara Ilmu, anak kedua kami, terlahir tanggal 23 Februari 2013 lalu. Dia memang alumni VBAC alias Vaginal Birth After Caesarian (proses kelahiran normal setelah pada persalinan sebelumnya melalui operasi sesar) setelah kakaknya yang terpaut 20 bulan dilahirkan melalui operasi sesar karena posisi yang sungsang (kepala diatas) dan masih jauh dari jalan lahir di usia kehamilan 39 minggu plus bobot yang sudah cukup besar serta beberapa belitan tali pusar di lehernya yang konon menghambat pergerakannya untuk bisa sampai ke posisi siap dilahirkan.

Meskipun VBAC bukan istilah maupun hal yang baru, karena ternyata sudah booming sejak tahun ’80-an  namun popularitasnya berada jauh dibawah istilah operasi sesarnya itu sendiri, dan jelas masih banyak orang khususnya wanita – calon ibu yang belum familiar dengan istilah ini termasuk saya yang baru ngeuh dan menjadi tergerak untuk mendalaminya pada saat kehamilan kedua. Itupun karena awalnya saya melahirkan melalui operasi dan jika memungkinkan tidak ingin melaluinya lagi.

Alasan memilih VBAC

Orang tua kami sempat bertanya dalam kekhawatiran mereka, kenapa sih meni keukeuh ingin melahirkan normal? Kan resikonya seram. Dan memang demikian adanya. Dari sumber-sumber bacaan yang saya lahap selama masa kehamilan, selalu disebutkan bahwa resiko VBAC adalah terjadinya rupture uterus alias robekan pada uterus di lokasi bekas jahitan operasi yang tentu bisa berakibat fatal terutama bagi si ibu hingga bisa mengakibatkan kematian. Selain itu tidak mustahil usaha persalinan normal saya gagal dan ujung-ujungnya saya bisa berakhir di meja operasi lagi. Kalau hal itu terjadi maka saya “rugi” karena bukan saja akan menghadapi orang-orang yang berkata “Tuhhh kannn (;p)…” sayapun menanggung resiko komplikasi pasca operasi yang menurut tinjauan medis kemungkinannya akan meningkat dan bisa lebih parah bila dibandingkan jika saya menjalani operasi tanpa sebelumnya melewati tahapan percobaan persalinan normal.

Lantas kenapa saya tetap ingin mencoba? Padahal sebenarnya jika melihat sejarah operasi sesar saya yang sebelumnya alhamdulillah termasuk lancar jaya dan memuaskan hasilnya. Buktinya biarpun pemulihannya cukup lama dan agak lebay, namun secara fisik tidak ada trauma pasca operasi yang saya alami entah itu infeksi, pendarahan, dsb. Anastesi spinal yang saya jadikan pilihan juga memungkinkan saya untuk menyegerakan bonding fisik dengan bayi saya dan keinginan IMD pun terlaksana (meskipun bayangan-bayangan mengenai ruang operasi dan apa yang saya lalui disana terekam jelas dan menghantui saya berhari-hari dan cukup membuat saya bermimpi buruk dengan settingan ala buku “Goosebumps”-nya R.L. Stine bermalam-malam lamanya *ketahuan deh, saya ini anak tahun berapaan:p). Jahitan sayapun termasuk samar di badan dan terbukti (lewat VBAC yang saya lalui) bahwa kualitas jahitannya juga baik adanya. Orang tua saya bilang, bukannya banyak selebritis diluar sana yang rela masuk ruang operasi demi tanggal cantik di akte anaknya, atau agar penampilan selalu terjaga, lah ini yang untuk alasan keamanan kok ya malah kepengen cari “musibah”, heu<(_ _)>.

Wajar lah ya jika jadi banyak orang beranggapan bahwa jalur operasi adalah yang paling aman dan nyaman untuk melahirkan bayi ke dunia kalau pembandingnya selebritis. Apalagi ini orang tua mengkhawatirkan anaknya yang beresiko luka operasinya bisa terbuka dan bisa gawat seketika kalau salah prosedur persalinannya. Yah, baiklah saya akui saja bahwa saya memang tidak punya nyali selebritis dunia, dan itu memang salah satu alasan saya tak mau lagi didorong di meja beroda untuk menghadapi pisau yang akan menyayat kembali rahim saya *aww…linu sendiri~*_*~

Tapi alasan saya untuk mengusahakan VBAC bukan karena itu saja. Saya punya keyakinan bahwa hamil dan melahirkan yang kelak dilanjutkan dengan menyusui serta mengambil porsi terbesar dalam membesarkan sang anak adalah hal yang sudah tersistem sedemikian rupa. Pre planted, meminjam istilah suami saya, dari Allah SWT sang Pencipta bagi seorang wanita. Dan karenanya keyakinan bahwa “Karena saya hamil maka saya bisa melahirkan” bagi saya adalah bagian dari keimanan, sebagaimana layaknya saya juga meyakini bahwa jika saya tidak dikaruniai kehamilan maka saya pastilah dipercaya Allah untuk mengemban tanggung jawab dalam bentuk lainnya.

Alasan lainnya adalah untuk menghindari operasi sesarnya itu sendiri ya tentunya untuk menghindari efek negatif dari operasi itu. Meski seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa operasi saya termasuk lancar dan baik hasilnya tapi itu tidak lantas otomatis menjamin bahwa operasi berikutnya akan sama suksesnya. Resiko-resiko umum seperti infeksi, pendarahan, efek negatif dari obat bius maupun antibiotik bagi ibu dan bayi, dan tentu juga resiko kematian yang menyertai operasi tentu tetap harus diwaspadai dan diantisipasi. Belum lagi biaya operasi yang tinggi, rasa sakit pasca operasi yang tidak pulih dalam hitungan hari yang mana selain tidak nyaman juga sangat membatasi pergerakan dan menyulitkan saya untuk berkegiatan terutama untuk menyusui dan mengurus sendiri sang bayi. Lalu ada juga resiko gangguan kesehatan yang umum terjadi pada bayi yang dilahirkan melalui jalan operasi yang juga kami alami pada anak pertama kami yaitu gangguan pernafasan dan alergi. Belakangan saya juga membaca bahwa bayi yang diahirkan melalui operasi rawan dengan gangguan otak serta trauma, selain juga berpengaruh pada sistem kekebalan tubuhnya.

Namun ini tidak berarti bahwa saya menganggap keberadaan jalan operasi sebagai suatu kejumudan. Bagi saya, operasi adalah alternatif yang dapat dipertanggungjawabkan asalkan usaha maksimal supaya bisa melahirkan normal sebelumnya sudah dilaksanakan. Apalagi setelah membaca berbagai sumber yang menyebutkan bahwa VBAC bukan suatu kemusykilan dan justru malah mempunyai banyak sekali kelebihan daripada operasi sesar berulang (salah satu sumbernya ada di sini), terutama bagi saya dan suami yang tidak menolak jika Allah kelak masih mempercayakan beberapa anak lagi *hehehe, bukan keluarga lingkaran biru ini mah:p. Inilah yang justru mengantarkan saya pada alasan terakhir dan terpenting bagi saya untuk mengusahakan kelahiran normal, yakni karena saya yakin bahwa saya memenuhi keriteria sebagai kandidat untuk VBAC. Tentu saja keyakinan ini dikuatkan oleh tinjauan medis:D

Prayarat VBAC

Seperti yang saya singgung diatas, salah satu prasyarat utama seseorang boleh melakukan VBAC adalah bahwa orang tersebut memenuhi kriteria-kriteria sebagai kandidat VBAC. Apa saja kriterianya?

  • Pertama, alasan yang mendasari dilakukannya bedah sesar sebelumnya bukan dikarenakan hal yang permanen. Artinya kondisi tersebut bisa diusahakan agar tidak terjadi pada kehamilan yang selanjutnya. Dalam kasus saya, posisi bayi sungsang, bukanlah hal yang permanen. Contoh alasan permanen misalnya jika saya memiliki cacat tubuh yang membuat saya tidak memungkinkan untuk melakukan usaha persalinan normal misalnya cacat tulang pinggul.
  • Kedua, riwayat kesehatan. Kandidat VBAC tidak boleh memiliki riwayat penyakit yang memungkinkan terjadinya gangguan saat proses persalinan normal misalnya herpes atau penyakit kelamin, gangguan jantung, obesitas akut, atau diabetes. Alhamdulillah daftar tersebut bisa saya coret semua.
  • Ketiga, usia. Sebetulnya tidak ada patokan resmi berapa batas usia untuk bisa menjadi kandidat VBAC karena yang lebih utama adalah kondisi kesehatannya, jadi untuk memperoleh penilaian objektif sangat disarankan bagi calon kandidat VBAC untuk berkonsultasi dengan dokter kandungannya. Yang jelas saya (29 th kala itu) plus kondisi kesehatan yang Alhamdulillah sedang baik dinilai cukup untuk mengusahakan persalinan normal yang sehat.
  • Keempat, kandidat VBAC tidak boleh memiliki masalah dengan jahitan pada luka operasi sebelumnya (baik itu karena operasi sesar maupun jejak operasi lainnya yang posisinya di daerah perut atau organ vital lainnya). Misalnya dalam hal operasi sesar kita bisa menganalisis dari seberapa sering dan sehebat apa gangguan pada bekas luka kita rasakan dan jika memang ada maka lebih baik untuk memeriksakannya ke dokter. Dalam kasus saya, sejauh yang saya rasakan luka bekas robekan dan jahitan operasi saya tidak bermasalah dan saya juga tidak pernah mengalami rupture uterus yang konon kemunculannya ditandai dengan rasa nyeri sangat hebat di bagian luka dan air kencing berdarah. Untuk mendukung penilaian ini sebenarnya dapat dilakukan salah satunya dengan cara berkonsultasi dengan dokter yang bertanggung jawab terhadap operasi kita. Dalam hal jahitan luka operasi sesar kita dapat menanyakan apakah jahitan yang dipasangkan merupakan jahitan ganda atau jahitan tunggal, bila kita memperoleh jahitan ganda maka kemungkinannya untuk VBAC lebih aman. Posisi jahitan juga berpengaruh bagi kesuksesan VBAC, posisi yang direkomendasikan yakni berada di bagian bawah uterus dangan posisi horizontal.
  • Ketebalan dinding rahim. Lebih tebal dinding rahim seseorang maka kemungkinan sukses ber-VBAC-nya pun lebih baik karena diharapkan ia akan lebih kuat menerima tekanan dan regangan yang diakibatkan proses persalinan alami. Lagi-lagi saya pun lolos dari prasyarat yang satu ini, Alhamdulillah. Untuk mengetahui ketebalan dinding rahim, mintalah dokter Anda untuk mengukurnya pada saat usia kandungan belum terlalu besar.

Ini semua, menurut dokter Hendra Gunawan, salah seorang dokter spesialis kandungan pro VBAC yang kami temui, sudah cukup sebagai modal awal sebagai kandidat VBAC.

lebih detail mengenai prasyarat VBAC bisa dibaca di artikel berikut : http://en.wikipedia.org/wiki/Vaginal_birth_after_caesarean dan http://americanpregnancy.org/labornbirth/vbac.html ).

Prasyarat lainnya adalah dukungan tenaga medis yang mumpuni. Ini lumayan tricky nih, karena kalangan medis masih terbagi dua dalam menyikapi VBAC. Ada yang pro dan ada yang menentang sangat keras. Tapi insyaAllah seiring dengan munculnya komunitas-komunitas pengususng gentle birth kini makin mudah menemukan dukungan medis untuk melakukan VBAC, salah satu komunitas yang cukup recommended adalah komunitas Gentle Birth untuk Semua (GBUS).

Saya sendiri beruntung karena menemukan bidan Lidya Wati, tempat kami menimba ilmu dan pemahaman akan proses kehamilan dan persalinan dari sudut pandang Islam (di Sawangan – Depok), bidan Okke Efrina dan tim nya yang menggawangi persalinan saya (kini membuka praktik Bumi Ambu di Bandung) dokter Hendra Gunawan (di Hermina Pasteur Bandung) dan dokter Amilia Siddiq (di Borromeus Bandung) yang mendukung penuh rencana VBAC saya, dari mereka saya mendapat masukan-masukan yang sangat bermanfaat dalam mengusahakan persalinan normal impian saya:).

Prasyarat VBAC selanjutnya adalah saat menjalani persalinan harus diusahakan sealami mungkin. Artinya tidak boleh “dibantu” dengan induksi buatan, apalagi vacuum. Proses mengejan juga harus sealami mungkin, harus sesuai dengan ritme tubuh, tidak dibantu dengan tekanan dari luar (praktik menekan bayi lewat perut ibunya yang dulu masih dilakukan kini sebetulnya sudah dilarang tapi kadang masih ada yg melakukan). “Harus sabar, jangan di gas” begitu kata dokter Hendra Gunawan menekankan dalam salah satu sesi konsultasi kami.

Terkait dengan prasyarat terakhir, ini mengisyaratkan pentingnya menjaga kondisi ibu dan janin selama masa kehamilan hingga waktu persalinan. Tak berbeda dengan kondisi kehamilan lainnya Ibu harus mengupayakan agar asupan nutrisi ia dan janinnya terpenuhi (tapi tidak berlebihan hingga mengakibatkan obesitas baik pada ibu maupun janin) sehingga bukan hanya bayinya tumbuh sempurna di rahim sang bunda tapi juga ibunya memiliki daya tahan dan energi yang prima untuk dihamburkan saat persalinan nanti yang memang sangat menguras tenaga;p.

Selain itu usaha-usaha juga harus dioptimalkan utamanya pada usia kandungan 5 bulan ke atas untuk memposisikan bayi pada jalan lahir karena ini akan mempengaruhi kesuksesan persalinan normal. Induksi alami juga bisa dilakukan pada usia kehamilan tua atau saat berat janin sudah cukup untuk syarat kelahiran (diatas 2,5kg) sehingga dapat melancarkan usaha persalinan .

Sisanya ya tergantung pada do’a-do’a serta tentu saja kehendak sang Maha Pencipta:)

Perjuangan untuk sukses ber-VBAC dan menuju persalinan mabrur

Keberhasilan VBAC saya bukanlah keberuntungan, melainkan hasil dari do’a-do’a dan sejumlah perjuangan. Jika saya runut ulang, saya ingat bahwa perjuangan pertama saya yakni mengusahakan dukungan keluarga. Ini menjadi prioritas utama dalam birthplan saya karena saya butuh mereka untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang ramah bagi saya dan janin saya termasuk keleluasaan waktu untuk memberdayakan diri selama dalam kehamilan baik itu untuk sekedar bermeditasi dalam bentuk solat dan membaca Al-Qur’an misalnya, senam hamil, atau menyenangkan diri dan sebagainya. Saya juga pasti membutuhkan mereka saat perlu mencari alternatif dan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang sangat mungkin muncul utamanya terkait dengan kehamilan dan rencana persalinan kami. Dan bukan itu saja, saya juga ingin mereka ada disamping saya, berbagi kebahagiaan selama masa kehamilan dan saat nanti melahirkan karena hal itu adalah peristiwa yang sangat menyenangkan! Perjuangan untuk memperoleh dukungan dan kepercayaan dari mereka inilah yang mengantarkan saya pada pencarian fakta-fakta. Saya jadi rajin membaca, juga bertanya pada ahlinya. Saya beruntung karena memiliki keluarga yang sangat tinggi kepeduliannya. Mereka  tidak mau begitu saja mengiyakan rencana saya, termasuk suami saya, meskipun pada akhirnya dia adalah supporter pertama dan utama saya. Bahkan setelah saya memaparkan data-data selain tentu juga setumpuk testimoni yang menurut saya cukup terpercaya. Mereka hanya bersedia mendukung jika rencana VBAC saya memiliki jaring pengaman yang reliable. Permintaan yang tidak berlebihan, malah sangat harus mendapat perhatian. Hal ini mengantarkan kami pada perjuangan berikutnya yakni perburuan!

Yap, kami berburu. Targetnya agar mendapat dukungan dari tenaga medis professional karena sebelumnya dokter yang biasa kami datangi tidak mendukung rencana VBAC saya ini. Selain itu juga mencari tempat bersalin yang nyaman bagi saya dan bisa dijangkau dengan mudah oleh keluarga, dan  memantapkan strategi keamanan pada rencana persalinan. Alhamdulillah semuanya terakomodasi. Dengan mempertimbangkan kemudahan akses bagi kami dan keluarga, kamipun memilih agar persalinan diusahakan berlokasi di kota Bandung dan bukan di Bogor tempat dimana kami tinggal saat ini.

Syukurnya di Bandung kami berjumpa dengan praktisi-praktisi medis yang pandangannya mengenai persalinan sangat membesarkan hati. Di kota ini pula kami langsung jatuh hati pada sebuah klinik bersalin kecil namun resik dan apik sehingga memutuskan untuk mengusahakan persalinan disana. Kendalanya di klinik tersebut (saat persalinan saya) tidak ada dokter spesialis kebidanan dan fasilitas untuk menangani kondisi darurat (operasi) yang mana keduanya menjadi prasyarat yang diajukan keluarga untuk mendukung rencana persalinan saya. Untungnya sang klinik bertetangga dengan salah satu rumah sakit besar dan terpercaya dengan salah satu dokternya memiliki pandangan yang cukup moderat mengenai rencana persalinan saya termasuk saat kami menempatkannya sebagai rencana cadangan untuk kondisi siaga alih-alih menjadikannya sebagai alternatif utama, alhamdulillah. Dengan demikian maka kami bisa meyakinkan keluarga bahwa jika terjadi kondisi darurat kami bisa segera ditangani disana yang jaraknya bisa ditempuh dengan waktu sepuluh menit saja.

Mengapa kami tidak mengambil alternatif untuk melahirkan di rumah sakit adalah karena saya dan suami meyakini bahwa faktor kenyamanan adalah utama bagi usaha persalinan normal saya. Dan jelas bila dibandingkan riuh rendahnya rumah sakit berikut segala standar proseduralnya maka pemenangnya pasti jatuh pada klinik bersalin ”sederhana” yang tenang, dengan suasana rumahan, dimana saya tidak merasa menjadi pasien disana melainkan hanya seorang calon ibu yang akan melahirkan biasa. Juga dimana saya bisa memilih posisi saat nanti berjuang dalam persalinan, serta jaminan dukungan mental dan pendampingan persalinan alami namun profesional yang mana kami sudah berbagi visi mengenai prosedur dan keinginan-keinginan kami dengan sang bidan yang kami percaya.

Menyertai kedua perjuangan tadi, yang juga tak kalah penting dalam kisah sukses VBAC kami ini adalah proyek kami dalam hal pemberdayaan diri. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, modal awal sebagai kandidat VBAC saja tidak cukup, harus dibarengi dengan ikhtiar saya sendiri untuk mengusahakan hal-hal yang dapat mendukung lancarnya usaha persalinan normal dan menghindari kemungkinan perlunya tindakan-tindaan yang tidak alami.

Mengenai yang satu ini saya merasa beruntung dan mensyukuri keberadaan teknologi karena dengannya kini berbagai informasi bisa dicari. Selain mencari informasi, melalui dunia maya saya juga bergabung dalam komunitas yang beranggotakan sesama ibu hamil yang juga dikawal oleh praktisi kebidanan kawakan. Bagi saya keberadaan komunitas memberikan peranan penting dalam perjalanan kehamilan dan persalinan. Tak hanya kita dapat memperoleh informasi mengenai serba-serbi kehamilan dan persalinan tapi yang justru lebih utama dari komunitas adalah karena didalamnya mengakomodasi pertukaran visi dan menguatkan motivasi. Dan tentu saja disini saya juga memperoleh banyak teman yang merupakan sesama ibu hamil untuk berbagi.

Seluruh perjuangan kehamilan dan persalinan ini mengantarkan kehamilan saya menjadi usaha “persalinan mabrur.” Mabrur? Yap, karena gara-gara hamil ini saya jadi menemukan banyak ilmu yang bisa saya terapkan sehari-hari, bahkan saat saya sudah tidak hamil lagi. Terutama ilmu mengenai pemberdayaan diri. Ilmu ini membuat saya menyadari bahwa kehamilan, yang merupakan satu fragmen kecil saja dalam kehidupan keseluruhan, harus dikawal dengan kesadaran diri. Artinya saya harus selalu ingat bahwa apapun, sekecil apapun hal yang saya kerjakan bisa berpengaruh pada kehamilan saya.

Jika sebelum ini yang saya perhatikan terfokus pada masalah nutrisi kini saya tau dan mesti ingat bahwa posisi duduk saya, posisi tidur saya, sampai cara saya mengolah nafas dan bahkan cara saya memenej pikiran bisa berpengaruh pada kehamilan saya. Maka dari itu saya harus memilah dan memilih hanya hal-hal yang efeknya baik saja bagi kehamilan saya. Nah pada skala besar, ini sama dengan konsep bertaqwa makanya saya menamainya sebagai usaha untuk mencapai persalinan mabrur.

Proyek pemberdayaan diri saya, si ibu hamil, tidak akan berjalan lancar jika bapak hamil saya yang tercinta tidak mendukung dan ikut menjadi sumbangan daya. Dialah partner utama saya untuk berdiskusi, menyaring informasi, saling membesarkan hati setiap saat setiap hari. Dialah yang mengakomodasi mobilitas saya kesana kemari, dia juga ikut menemani dan bahkan dengan sangat proaktif bersama-sama setiap minggu bolak-balik ke kota tetangga untuk mendalami ilmu mengenai kehamilan dan persalinan pada seorang bidan yang luar biasa akomodatif dan motivatif sehingga saya tidak merasa berjuang sendiri, karena suami saya jadi kurang-lebih memahami apa yang tengah saya hadapi dan alami sehingga tingkat empatinya jadi begitu tinggi<3.

Termasuk saat masa penantian persalinan dimana kami harus terpisah jarak Bogor-Bandung, suami saya rela berbagi fikiran antara pekerjaannya dengan saya. Dia yang ikut memutar otak serta memeras keringat mengumpulkan rejeki untuk mengakomodasi rencana persalinan, Dia yang sambil menuntut namun juga ikut mencari alternatif-alternatif bagi rencana persalinan, Dia yang tak pernah lupa mengabsen checklist pemberdayaan diri saya, mulai dari asupan nutrisi hingga menemani saya senam pagi. Dan saya sangat merindukan absensinya itu kini: sudah cukupkah protein saya hari ini? Apakah karbo, gula dan garamnya sudah dikurangi, sementara sayuran dan buah-buahan dilebihi? Minum sudah berapa banyak yang terisi? Nanti jangan lupa jalan kaki. Hehe, cerewet yang menyenangkan hati. Dia juga tidak keberatan menjadi tukang pijit perineum meskipun sambil meringis-ringis karena takut mengakibatkan ngilu pada saya nanti (dan Alhamdulillah pijatan-pijatan linu itu, bersama dengan usaha kami yang merutinkan berenang setiap minggu, dan kegel yang membuat pegal, mengantarkan saya berhasil melahirkan tanpa luka berarti pada bagian perineum hingga tidak memerlukan jahitan) dan sebagainya.

Final dari semua perjuangan kami itu adalah proses persalinan penuh cinta di sebuah kamar bernuansa biru sewarna nama bayi di kandungan saya – “Sagara” yang berarti samudera. Pada usia kehamilan 38 minggu, dua minggu lebih awal dari due date nya. Didampingi sepenuhnya oleh suami serta tiga bidan yang selalu siaga.

Persalinan yang lancar dan alami, diawali dengan rembesan air ketuban dan bercakan darah di subuh hari, bukaan pertama. Sayapun tidur miring kiri untuk mencegah air ketuban rembes lebih banyak lagi. Tenggat saya 6 jam untuk menanti bukaan tergenapi, jika tak terjadi maka saya ikhlash dengan operasi. Tepat setengah jam sebelum tenggat terlewati jalan lahir terbuka dengan pasti, Alhamdulillah tak sia-sia perjuangan saya setiap hari jalan kaki, dan menggiatkan berbagai cara induksi alami.

Bohong jika saya mengatakan bahwa prosesnya melewatkan rasa sakit (meskipun sebagian ibu melahirkan nampaknya memang berhasil melewatkannya, subhanallah). Sakit tentu saja. Tapi sakit ini bukan semacam sakit hati yang membingungkan dan tidak mudah diatasi. Ini adalah sakit yang bisa dipahami dan dengan segera dilalui.

Saya pribadi menemukan bahwa saat saya paham mengenai apa yang sedang dan akan saya hadapi sangat membantu saya dalam proses luar biasa ini. Itulah yang menjadikan belajar menjadi penting untuk para ibu hamil. Memahami bahwa rasa tak nyaman dan kesakitan pada saat kontraksi datang adalah prasyarat yang diperlukan bagi proses kelahiran, bahwa arti dari setiap mulas yang datang adalah bahwa tubuh saya tengah mengakomodasi sang bayi untuk lahir ke dunia ini, dan memahami bahwa yang saya harus lakukan hanya bantuan berupa mengejan dan mensuplai oksigen serta tenaga melaui pernafasan dan kepercayaan diri, maka sayapun bisa melakukannya dengan senang hati. Tak peduli berapa kali atau berapa waktu yang harus kami lalui.

Dan di tarikan nafas terakhir, saat kepala mungil itu meluncur diikuti sempurna tubuhnya, maka tak ada yang tersisa selain bahagia, rasa syukur yang tak hingga, dan saya yakin bahwa semesta pun ikut tertawa, lega:’).

Memuaskan. Hanya kata itu yang dapat mewakili apa yang saya rasakan. Kebersamaan, azan dan iqomat yang dikumandankan, persentuhan dua badan, pendampingan hingga ari-ari oleh sang ayah diputuskan, semuanya adalah I’tikaf kenikmatan yang selamanya tak mungkin terlupakan. Tersimpan rapi dalam memori, dan akan selalu saya putar ulang kembali saat mendampinginya dewasa nanti. Dan impian serta semangat kami untuk menjadi manusia mabrur melalui proses kehamilan dan persalinan ini selalu memotivasi setiap langkah kami. insyaAllah. ❤

421454_574510409225816_2054969214_n

540856_575258935817630_219933777_n

%d blogger menyukai ini: