Arsip Blog

Mamang, Ibi, this is Alun’s Leap to Aldulthood!

Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai wajib atau sunnahnya, kita yang muslim sepakat bahwa berkhitan yang sudah dilaksanakan sejak jaman nabi Ibrahim as ini merupakan hal yang dianjurkan.
Kita bisa merujuk pada hadits Nabi berikut ini:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ، اَلْخِتَانُ وَ اْلاِسْتِحْدَادُ وَ نَتْفُ اْلاِبْطِ وَ قَصُّ الشَّارِبِ وَ تَقْلِيْمُ اْلاَظْفَارِ. البخارى 7: 143
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, :Fithrah itu ada lima : 1. Khitan, 2. Mencukur rambut kemaluan, 3. Mencabut bulu ketiak, 4. Memotong kumis, dan 5. Memotong kuku”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 143]

Dan ternyata pandangan medis modern juga mendukung pentingnya melakukan khitan karena terbukti banyak manfaatnya bagi kesehatan.

Makanya sejak mengetahui kalau anak kedua kami adalah laki-laki masalah berkhitan ini sudah langsung kami masukkan dalam agenda hak anak yang harus kami tunaikan along dengan memenuhi segala kebutuhan dasarnya, melaksanakan aqiqah, memberikan pendidikan yang baik, dan kelak menikahkan *Ya Allah, meni asa geus kolot 😂

Itu, dan khusus dalam kasus Alun mah berkhitan juga adalah bagian dari persiapan kami menuju keberangkatan ke Berlin dalam rangka menemani Ama yang sedang tholabul ‘ilmi *ciyeciyeee🙆.

Kami merasa ini penting karena belajar dari kasus beberapa ponakan dan sepupu yang “terpaksa”  harus dikhitan akibat alasan medis (rata-rata karena fimosis) yang munculnya “tiba-tiba” maka kami memilih mengkhitan Alun saat sedang sehat dan saat masih di Indonesia *soalnya memikirkan kemungkinan mengkhitan Alun di Jerman saja – apalagi kalau gara-terpaksa- sudah bikin saya kleyengan😫😷😵

Akhirnya meskipun saya dan siAma jadi agak lebay merasa bersalah karena mengkhitan Alun tanpa mendiskusikannya terlebih dulu sama yang bersangkutan sementara dianya sedang menikmati perkembangan kemampuan motorik kasarnya, dan meskipun kami bisa dianggap melakukan pelanggaran hak asasi manusia, kami mantap memutuskan untuk mengkhitan Alun pada tanggal 7 September 2014 lalu🙏.

Pada akhirnya kami bersyukur untuk keputusan tersebut karena ternyata oh ternyata … saat kontrol di hari ke empat pasca khitan sesuai anjuran dokternya, sang dokter menginformasikan kalau Alun ternyata memiliki fimosis meskipun masih ringan 😮
Dokter mengira alasan kami mengkhitan Alun karena hal itu, padahal kami syok saat diberi tahu, heuheu. Maklum sebelumnya memang kami tidak konsultasi dulu dengan dokter karena selama ini Alun tidak menunjukkan gejala gangguan buang air😯, dan kami juga baru tau kalau fimosis bisa diidentifikasi dari bentuk penis anak. Kalau kulupnya meruncing, nah itu kemungkinan besar sang anak mengidap fimosis😛.

Tapi yah, hikmahnya Alun sekarang terbebas dari fimosisnya.
Jadi bagi orang tua yang memiliki anak laki-laki, bagus juga kalau sesekali konsultasi dengan dokter untuk melihat adanya kemungkinan anak memiliki kelainan fisiologis yang berpotensi masalah di kemudian hari semacam fimosis ini.

Kapan sih waktu yang tepat untuk berkhitan?
Sebenarnya umur 19 bulan seperti Alun saat ini terhitung usia tanggung untuk berkhitan karena si anak sedang dalam masa super duper aktif, bahkan disaat tidur 😅*da Alun mah motah pisan tidurnya
plus anak umur batita begitu agak susah diberi reasoning, tidak bisa disuruh duduk diam atau berbaring untuk menghindari gesekan pada luka khitannya. Apalagi saat obat peredam sakitnya sedang beraksi, mana dia peduli dengan perintah duduk atau berbaring manis … lihat kakaknya lari-lari ya langsung dong dia bergabung sambil haha hihi … tinggallah orang tuanya yang meringis-ringis ngeri :'(.

Belum lagi kendala komunikasi, batita seperti Alun belum bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan dengan kata-kata makanya kami yang mendampinginya kadang dibuat bingung untuk memberi respon yang tepat terutama dalam menyikapi tangisan dan kerewelan Alun pasca dikhitan. Kalau dia menangis kami cuma bisa mengira-ngira alasannya dan yang jadi tertuduh pasti si luka bekas khitannya itu, hihi, padahal mungkin dia menangis karena hal lain 😅. Untunglah Alun termasuk jarang menangis dan tidak terlalu rewel.

Jadi pilihan usia khitan yang enak  adalah waktu bayi (usia 1mgg-3bln) karena bayi belum banyak bergerak sehingga perawatan luka lebih mudah dan cenderung lebih cepat sembuh. Meskipun ya beberapa kalangan menentangnya dengan alasan dapat mengakibatkan efek traumatik pada bayi. Atau tunggu anak sampai bisa diajak berkomunikasi dan diberi pengertian, mungkin saat usia anak 4 tahun atau lebih.

Nah, kalaupun pada akhirnya orang tua memutuskan untuk mengkhitan anaknya pada usia batita mungkin pengalaman kami kemarin bisa menginspirasi😄

Persiapan
Apa sih yang kami persiapkan saat mau mengkhitan Alun kemarin?

Yang pertama tentunya harus menentukan waktu, metode dan tempat khitanan. Terkait dengan hal ini dianjurkan bagi orang tua untuk sekaligus berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah ada hal-hal khusus yang harus diperhatikan terkait kondisi anak (kesehatan, fisiologis, mental), faktor usia, dsb.

Pilihan kami kemarin jatuh ke metode konvensional yang konon paling aman untuk bayi dan balita. Dan diputuskan untuk mempercayakan prosesnya pada para ahli di Klinik Khitan Seno Medika Bandung. Selain karena testimoni orang-orang yang selalu positif, di klinik ini beda dengan klinik lainnya ialah luka sunat tidak diverban, menurut saya ini lebih nyaman bagi anak karena tidak perlu buka tutup verban. Prosesi buka verban itu kan lumayan traumatik lho, coba saja tanyakan pada yang pernah mengalaminya jika tidak percaya😨.

Kliniknya juga nyaman, saya pernah kesana sebelumnya (karena ikut pelatihan  yang berlokasi disana) dan jadi tahu kalau tempatnya memang nyaman, terutama untuk para pengantar yang membawa anak kecil. Kalau untuk calon terkhitan sih saya tidak tahu karena belum pernah masuk ruangan khitannya. Tapi profesionalitas dan kredibilitas tim dokternya terkenal baik.

Tempat parkir lumayan luas, dan ada mushalla yang nyaman. Ini penting sekali bagi para pengantar karena khitan disini dilangsungkan dari jam 5 subuh, dan semua pasien harus datang minimal setengah jam sebelumnya untuk mengambil nomor antrean. Pemilihan waktu di subuh hari ini dikarenakan anak belum terlalu banyak beraktifitas sehingga aliran darahnya tidak terlalu kuat.

Berikutnya persiapan keuangan. Biaya khitan berbeda-beda tergantung penyelenggara. Di seno medika biaya khitan untuk anak dibawah 4 tahun adalah 1jt 105rb rupiah karena termasuk pelayanan VIP.  Selain faktor tingkat kesulitan, yang membedakan pelayanan VIP dg reguler adalah penggunaan obat bius. Obat yang digunakan pada layanan reguler efek biusnya hanya bertahan selama 4jam, sedangkan yang VIP ini sampai 7jam. Cocok bagi kami yang langsung membawa Alun ke Sumedang:)

Selain itu di ruangan VIP yang terletak di lantai dua klinik juga lebih nyaman, kursi tunggunya terdiri atas beberapa sofa empuk dan kursi-kursi yang mengelilingi meja bundar berlapis kain putih dengan dihias pita hijau ala di tempat kondangan:), selain itu bagi pengantar disediakan juga suguhan teh dan kopi panas serta beberapa jenis makanan ringan. *Tapi saya mah boro-boro makan da tegang 😅.

Persiapan lainnya apa ya?hmmm kami juga mempersenjatai diri dengan barang-barang yang bisa menghibur Alun: mainan, makanan dan minuman pavoritnya. Just in case dia cranky di jalan, meskipun ternyata dia tidur di sepanjang perjalanan pulang, hehe. Alhamdulillah 😇.

Oh ya, untuk bayi atau batita yang masih belum bisa buang air sendiri siapkan juga beberapa celana untuk dikorbankan, di gunting (dilubangi) bagian penisnya. Tujuannya agar ketika buang air, air seni nya tidak terlalu banyak mengenai luka karena luka yang sering terkena air lebih sulit untuk sembuh dan bisa jadi harus mendapatkan treatment khusus. Pada hari H sunat anak dipakaikan celana longgar tanpa resleting atau sarung (sarung instan lebih enak) karena nanti akan dipakaikan sabuk berpenyangga.

Terakhir, diluar itu semua yang sangat perlu dipersiapkan adalah mental kita, orang tuanya.
Terus terang meskipun rencana ini sudah diwacanakan jauh-jauh hari, tetap saja rasanya kami tidak benar-benar siap, terutama secara mental. Malam sebelum hari H nya aja Saya masih bertanya pada Ama apa kita batalkan saja ya rencana khitannya? Mudah-mudahan Alun tidak fimosis sampai kita pulang dr Jerman…heuheu, untung lah Ama berpendirian kuat dan berlogika sehat jadi tidak ikut panik dan rencana khitan Alun bisa tetap terlaksana😁. Walau demikian tetap saja kami berdua tidak bisa tidur tenang, gelisah dan deg-degan semalaman. Walhasil Alun ikutan resah juga tidurnya, hati orang tua memang terkoneksi sinyal HSDPA dengan anaknya😆.

Jadi untuk para ortu yang berencana mengkhitan anaknya, persiapkan mental Anda. Minta dukungan dari orang-orang terdekat supaya ikut membesarkan hati kita. Mendengarkan dan membaca cerita-cerita sukses khitanan orang-orang juga lumayan membantu memberikan gambaran akan apa yang bakal dihadapi nantinya.

Tak usah panik, apalagi sampai menangis-nangis bombay segala. Percayalah pada ahlinya, insyaAllah anak akan baik-baik saja saat disunat. Hilangkan pikiran buruk yang membayangkan bagaimana kalau-kalau dokternya mengantuk dan jadi salah mengiris, atau anaknya meronta-ronta dan kabur sambil berdarah-darah dari kasur tindakan sebelum sunatnya beres *iya saya kepikiran itu semua sampe sesak nafassss…hwaaaaa😥

Post treatment & side effects
Kata seorang tetangga saya yang bijak, “Setelah dijalani mah ngga serumit yang dibayangkan“ ternyata benar😁.

Alhamdulillah ternyata kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat saya tidak bisa tidur dan jadi lebay itu tidak terjadi dan segalanya berjalan baik-baik saja. Ternyata kebijakan pihak klinik untuk tidak mengijinkan pengantar ikut mendampingi proses khitan malah melegakan, soalnya seandainya saya ikut mendampingi (sangat) bisa jadi malah mengganggu kelancaran dokter beraksi, hehe.

Kekhawatiran saya kalau Alun rewel dan membuat senewen orang serumah juga alhamdulillah tidak terjadi, Alun cuma menangis saat lukanya ditetesi obat, selain itu dia okidoki saja.  Bahkan saat obat bius habis efeknya pun dia baik-baik saja.

Saat pertama kali buang air kecil Alun sempat menangis tapi kali selanjutnya sudah biasa saja, malah sekarang dia punya kebiasaan baru berseru-seru bahagia “pipiiisss pipiiss” sambil memainkan air seninya dengan kakinya😑*dasar bocah…

Ah ya, satu hal yang perlu diperhatikan adalah cara membersihkan kencing, karena kencing termasuk najis yang tidak boleh dibawa saat sholat. Untuk detail caranya bisa dipelajari disini.

Secara umum efek samping dari khitan untuk Alun hanya peningkatan demand ASI yang sangat tinggi malah kadang sampai menolak makan dan memilih ASI sampai tertidur *serasa kembali ke jaman bayi 😪

Efek lainnya, sekarang saya jadi tau bahwa Alun kalau malam sudah tidak kencing sama sekali, pas subuh saja baru deh car-cir-cur 😂.
Kekhawatiran kalau malam dia gelutukan kesana kemari seperti biasanya juga ternyata tidak terjadi, entah bagaimana dia tidurnya anteng sekali, telentang tanpa berubah arah 😶padahal sehari-hari  kasur ukuran raja habis dia putari semua :?. Padahal lagi saya dan Ama sudah bersiaga piket untuk menjaga agar posisi tidur Alun tidak membahayakan lukanya😤.

Penyembuhan
Jangan berharap kesembuhan instan (note to myself). Segala sesuatu ada prosesnya, mari kita nikmati bersama😇. Awalnya kami *saya ding memang sempat ngeyel mencari alternatif khitan berdasarkan kecepatan penyembuhan, berharap ada yang begitu selesai khitan lukanya langsung kering dan bisa dipakaikan diaper lagi. Hehe. Tapi yah secanggih apapun teknologi khitan saat ini tentu saja belum ada yang demikian, jadi lebih baik berpedoman pada keamanan saja. Yang penting kita mau mendampinginya dengan sabar dan telaten ;).

Alun sendiri lukanya baru mengering di hari ke tiga, itupun belum sempurna. Tapi dia sudah bisa tidur miring dan nampaknya tidak sakit saat terbentur-bentur ringan tanpa dibantu obat penghilang sakit. Meskipun begitu sejak hari pertama pun aktifitasnya tidak terlalu terganggu, dan dia tetap ceria seperti biasanya:).

Ya, demikianlah sekelumit cerita khitanan si anak batita 😁. Lagi-lagi sebuah proses yang penuh nilai pembelajaran bagi kami orang tuanya. Sekali lagi, alhamdulillah 😇.

image

Sesaat sebelum disunat, ternyata sempat diabadikan😙

image

Ruang tunggu VIP Klinik Seno Medika

image

Celana-celana yang turut berkorban

image

Si batita sunat yang ceria

Lihat dokumentasi lengkapnya di https://m.facebook.com/ahmariama/albums/851599948183526/
*warning, cute version ahead! 😉

Bonus, 7 hal unik tentang khitan *ala on the spot😆:
1. Sejarah khitan dijelaskan dalam hadits berikut :
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اخْتَتَنَ اِبْرَاهِيْمُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ هُوَ ابْنُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً بِالْقَدُوْمِ. مسلم 4: 1839
Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda, “Nabi Ibrahim ‘AS berkhitan saat beliau berusia delapan puluh tahun dengan menggunakan kampak”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1839]
2. Dalam hadits tersebut kata بِالْقَدُوْمِ jika dibaca bilqoduum, artinya “dengan kampak”, tetapi jika dibaca bilqodduum, artinya “di kota Qoddum”, di daerah Syam *membaca keterangan ini saya langsung berharap jika artinya nama daerah, soalnya ngeri gitu kalau membayangkan sunatan menggunakan kampak😱
3. Bukti ilmiah yang menunjukkan sejarah khitan tertua ada di Mesir yakni ditemukannya relief yang diyakini berasal dari tahun 2. 400 SM di pemakaman kuno Saqqara yang menggambarkan prosesi khitan.
4. Ahli bedah di Bellevue Hospital Medical Collage pernah menggunakan metode khitan untuk menyembuhkan suatu kasus kelumpuhan pada seorang anak laki-laki berusia 5 tahun.
5. Praktik khitan pada wanita di negara-negara Afrika pada prosesnya melukai bahkan di beberapa daerah memutilasi bagian klitoris wanita, tak heran jika hingga kini khitan pada wanita memunculkan kontroversi.
6. Di Indonesia terdapat banyak tradisi yang mengikuti prosesi sunatan, dari mulai arak-arakan macam kuda renggong di Sumedang- Jawa Barat, tradisi meneteskan darah ayam di kepala anak calon sunat di Banyuwangi, sampai yang membuat saya senewen yaitu tradisi sifon di NTT yang saking senewennya membuat saya ogah untuk menuliskannya disini 😬 mangga we baca sendiri ah.
7. Nelson Mandela menuliskan pengalaman sunatnya di dalam otobiografinya.

Hoax atau fakta? Silakan cari sendiri kebenarannya, da Inimah hanya bonus semata ;)😄.

Salam Hangat.
Mbunya Alun si batita sunat.

Iklan
%d blogger menyukai ini: